Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISA FENOMENOLOGIS TERHADAP KORBAN BEAUTY PRIVILEGE DALAM DUNIA PEKERJAAN DI KOTA BANDA ACEH
Pengarang
Safira Ramadhan - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Cut Lusi Chairun Nisak - 199103022022032004 - Dosen Pembimbing I
Siti Ikramatoun - 199007012019032024 - Penguji
Dara Fatia, M.Sos - 199510312022032008 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2010101010117
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Sosiologi (S1) / PDDIKTI : 69201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sosiologi., 2024
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Beauty privilege merupakan fenomena di mana seseorang mendapatkan keuntungan dan perlakuan istimewa karena dianggap menarik secara fisik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui apa saja bentuk diskriminasi yang terjadi akibat beauty privilege di lingkungan pekerjaan dan menjelaskan persepsi masyarakat terhadap individu yang memiliki beauty privilege. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian mengenai korban beauty privilege dalam dunia pekerjaan di Kota Banda Aceh menggunakan teori kekerasan simbolik dan gender oleh Pierre Bourdieu, ditemukan bahwa individu yang dianggap menarik secara fisik cenderung mendapatkan perlakuan yang lebih baik, peluang karier yang lebih terbuka, dan penilaian yang lebih positif dibandingkan mereka yang tidak dianggap menarik. Fenomena ini menunjukkan bahwa kecantikan telah menjadi semacam mata uang sosial yang memberikan keuntungan bagi sebagian orang. Persepsi masyarakat terhadap individu yang memiliki beauty privilege bisa bervariasi, dari lebih disukai dan dianggap sukses hingga menjadi objek kecemburuan. Untuk mengatasi masalah ini penting untuk menciptakan kesadaran bahwa kecantikan bukanlah segalanya, dan perlakuan adil seharusnya didasarkan pada karakter dan tindakan seseorang, bukan hanya penampilan fisik. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk mengatasi ketidaksetaraan dan diskriminasi yang terjadi akibat beauty privilege di lingkungan pekerjaan. Dengan demikian, kita dapat membangun masyarakat yang lebih adil dan setara, di mana kecantikan tidak lagi menjadi satu- satunya faktor penentu keberhasilan seseorang.
Kata Kunci: Beauty Privilege, Lingkungan Pekerjaan, Diskriminasi, Persepsi
Beauty privilege is a phenomenon in which a person gets special benefits and treatment because they are considered physically attractive. This research was conducted with the aim of knowing what forms of discrimination occur due to beauty privilege in the work environment and explaining people's perceptions of individuals who have beauty privilege. This research was conducted with a qualitative method using a phenomenological approach with data collection techniques of interviews, observation, and documentation. Based on the results of research on victims of beauty privilege in the world of work in Banda Aceh City using Pierre Bourdieu's theory of symbolic violence and gender, it was found that individuals who are considered physically attractive tend to get better treatment, more open career opportunities, and more positive assessments than those who are not considered attractive. This phenomenon shows that beauty has become a kind of social currency that provides benefits for some people. Society's perception of individuals who have beauty privilege can vary, from being favored and considered successful to being the object of jealousy. To address this issue it is important to create awareness that beauty is not everything, and fair treatment should be based on one's character and actions, not just physical appearance. Therefore, there is a need to address the inequalities and discrimination that occur due to beauty privilege in the work environment. By doing so, we can build a fairer and more equal society, where beauty is no longer the only factor that determines one's success. Keywords: Beauty Privilege, Work Environment, Discrimination, Perception
BEAUTY PRIVILEGE DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA GEN Z DI KOTA BANDA ACEH (RYAMITHA SHEVANTI KAROLINA, 2025)
PENGARUH PRIVILEGE TERHADAP PRESTASI DAN KEAKTIFAN MAHSISWA DI UNIVERSITAS (, 2025)
STRATEGI KOMUNIKASI DINAS LINGKUNGAN HIDUP KEBERSIHAN DAN KEINDAHAN KOTA BANDA ACEH DALAM MENYEBARKAN INFORMASI PENANGGULANGAN SAMPAH PADA MASYARAKAT KOTA BANDA ACEH (MASNIDAR, 2018)
KAJIAN HARGA SATUAN PEKERJAAN BANGUNAN GEDUNG BERDASARKAN ANALISA BOW, SNI 2002 DAN SNI 2007 (Amir Hidayat, 2024)
ESTIMASI BIAYA PEKERJAAN NON STRUKTURAL PADA BANGUNAN GEDUNG SEKOLAH (MUHAMMAD RIZKI, 2020)