Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
DISSERTATION
FAKTOR PENDORONG DINAMIKA PENGGUNAAN RNDAN TUTUPAN LAHAN BERDASARKAN PERSEPSI LOKAL RNDI KOTA SABANG
Pengarang
Faisal Azwar - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Ashfa - 197302152000031001 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
2109300060016
Fakultas & Prodi
Fakultas Pasca Sarjana / Program Doktor Ilmu Teknik (S3) / PDDIKTI : 20003
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : ., 2024
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
RINGKASAN
Dinamika penggunaan dan tutupan lahan secara spasial dan temporal yang terjadi pada skala lokal muncul karena ekosistem yang melekat, dan dampak sosial ekonomi di tingkat nasional, regional, dan bahkan global. Peningkatan populasi, urbanisasi dan penetapan kebijakan pemerintah berimplikasi pada pertumbuhan lahan terbangun di kota, termasuk kota di pulau kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola dinamika penggunaan dan tutupan lahan Kota Sabang Tahunn2013-2021, mengidentifikasi faktor pendorong dinamika penggunaan dan tutupan lahan berdasarkan persepsi lokal dan menentukan model prediksi dan skenario yang terbaik pada tahun 2032 dan tahun 2042. Analisis pola perubahan penggunaan dan tutupan lahan yang telah terjadi dan prediksi menggunakan teknologi SIG dan data citra Spot 6 dan Spot 7. Transformasi penggunaan dan tutupan lahan yang paling besar terjadi dari hutan menjadi lahan pertanian yaitu seluas 567 Ha. Terbesar kedua adalah dari lahan pertanian menjadi padang rumput (509,92 Ha) dan padang rumput menjadi lahan pertanian (463,27 Ha) dan perubahan dari hutan menjadi padang rumput (276,61 Ha). Sementara itu, transformasi lahan paling besar menjadi lahan terbangun adalah dari lahan terbuka (139,74 Ha). Kawasan terbangun di Kota Sabang sebagian besar tumbuh dengan pola ekspansi yaitu 175 ha atau mencakup 67% dari luas area terbangun yang bertumbuh. Sementara pola infilling dan outlying masing-masing mencakup area seluas 16,9% (44 Ha) dan 16,06% (42 Ha). Hasil penelitian faktor pendorong dinamika penggunaan dan tutupan lahan berdasarkan persepsi masyarakat lokal menunjukkan perbedaan persepsi yang signifikan ditemukan di antara rumah tangga yang diwawancarai mengenai hal perubahan penggunaan dan tutupan lahan dan jarak ke berbagai infrastruktur seperti pasar, pusat kesehatan, sekolah, sumber air, jalan utama, pemberhentian bus, kota, pariwisata dan sumber energi. Peringkat pendorong terdekat dinamika penggunaan dan tutupan lahan adalah kawasan permukiman, kebakaran hutan, pembangunan infrastruktur, kawasan pariwisata, kawasan pertanian, kawasan perdagangan kawasan perkantoran, dan penggunaan kayu untuk bangunan. Sedangkan peringkat faktor pendorong mendasar dinamika penggunaan dan tutupan lahan Kota Sabang adalah kebutuhan lahan, perubahan harga lahan, pertumbuhan penduduk, kemiskinan, kurangnya sumber keuangan, kurangnya penegakan hukum, dan permintaan kayu. Analisis prediksi skenario I, dilakukan prediksi pada tahun 2032 berdasarkan pada pola dinamika penggunaan dan penutupan lahan Tahun 2013-2021, menunjukkan peningkatan kawasan terbangun sebesar 128,42%. Lahan terbangun di Kota Sabang sebagian besar tumbuh dengan pola ekspansi yang mencakup area sebesar 175 Ha atau 67% dari area terbangun yang tumbuh, sementara pola pengisian lahan dan pinggiran masing-masing menyumbang 44 Ha dan 42 Ha. Pada skenario 2, prediksi dilakukan pada tahun 2032 dan 2042 berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Sabang Tahun 2012-2032, menghasilkan pola pertumbuhan kawasan terbangun yang terdesentralisasi, tumbuh pesat di kawasan pariwisata. Pada skenario 3, prediksi dilakukan dengan melindungi kawasan hutan dan badan air agar tidak menjadi kawasan terbangun, akan menghasilkan pertumbuhan lahan terbangun pada pusat dan sub pusat kota, serta mengikuti struktur jaringan jalan. Berdasarkan hasil prediksi skenario 1, 2 dan 3 yang telah dilakukan, maka dalam menentukan skenario yang paling baik adalah yang skenario yang dapat mempertahankan luasan kawasan hutan yang besar dan badan air yang tidak berkurang, serta mempertimbangkan potensi cadangan karbon paling banyak. Hasil skenario terbaik menjadi masukan dalam penyusunan RTRW dan RDTR Kota Sabang yang berkelanjutan. Sebaiknya pemerintah perlu melakukan analisis dampak terhadap prediksi penggunaan dan tutupan lahan yang telah dihasilkan dalam penelitian ini.
Keywords: dinamika penggunaan dan tutupan lahan, SIG, persepsi lokal, faktor pendorong, Kota Sabang
Summary The spatial and temporal dynamics of land use and land cover at the local scale are influenced by inherent ecosystems and socio-economic impacts at national, regional, and even global levels. Population growth, urbanization, and government policy implementation have implications for the expansion of built-up land in cities, including those on small islands. This study aims to identify the patterns of land use and land cover dynamics in Sabang City from 2013 to 2021, identify the driving factors behind these dynamics based on local perceptions, and determine the best prediction models and scenarios for the years 2032 and 2042. The analysis of land use and land cover change patterns and predictions was conducted using GIS technology and Spot 6 and Spot 7 satellite imagery data. The most significant transformation of land use and land cover occurred from forest to agricultural land, covering an area of 567 hectares. The second largest transformation was from agricultural land to grassland (509.92 hectares), from grassland to agricultural land (463.27 hectares), and from forest to grassland (276.61 hectares). Meanwhile, the most substantial transformation to built-up land occurred from open land (139.74 hectares). Built-up areas in Sabang City mostly grew through an expansion pattern, covering 175 hectares or 67% of the total growth in built-up areas. The infilling and outlying patterns each accounted for 16.9% (44 hectares) and 16.06% (42 hectares) of the area, respectively. The study's findings on the driving factors of land use and land cover dynamics based on local community perceptions revealed significant differences in perceptions among the interviewed households regarding land use and land cover changes, and their proximity to various infrastructures such as markets, health centers, schools, water sources, main roads, bus stops, the city center, tourism areas, and energy sources. The top-ranked proximate drivers of land use and land cover dynamics were residential areas, forest fires, infrastructure development, tourism areas, agricultural areas, commercial areas, office areas, and the use of wood for construction. The fundamental driving factors of land use and land cover dynamics in Sabang City were land demand, land price changes, population growth, poverty, lack of financial resources, lack of law enforcement, and wood demand. The scenario I prediction analysis, conducted for 2032 based on the land use and land cover dynamics from 2013 to 2021, showed a 128.42% increase in built-up areas. Built-up areas in Sabang City predominantly grew through an expansion pattern, covering an area of 175 hectares or 67% of the growing built-up area, while the infilling and outlying patterns contributed 44 hectares and 42 hectares, respectively. In scenario 2, predictions were made for 2032 and 2042 based on the Sabang City Spatial Plan for 2012-2032, resulting in a decentralized growth pattern of built-up areas, with rapid growth in tourism areas. In scenario 3, predictions were made by protecting forest areas and water bodies from becoming built-up areas, resulting in the growth of built-up land in the city center and sub-centers, following the road network structure. Based on the prediction results of scenarios 1, 2, and 3, the best scenario is the one that can maintain large forest areas and water bodies without reduction while also considering the potential for the highest carbon reserves. The best scenario results are recommended as input for the preparation of a sustainable Sabang City Spatial Plan (RTRW) and Detailed Spatial Plan (RDTR). The government should conduct impact analyses on the predicted land use and land cover changes generated in this study Keywords: land use and land cover dynamics, GIS, local perceptions, driving factors, Sabang City
EKSPANSI LAHAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP LAHAN PERTANIAN DI KOTA SUBULUSSALAM, PROVINSI ACEH, INDONESIA (Adinda Stephany, 2025)
ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN KESELARASAN PEMANFAATAN LAHAN BERDASARKAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) DI KAWASAN PERI-URBAN KOTA BANDA ACEH (NADYA FAIZAH, 2019)
ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI KECAMATAN SUKA MAKMUE (Tiara Vinika Lestari, 2025)
PREDIKSI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CELLULAR AUTOMATA-MARKOV UNTUK EVALUASI POLA RUANG RENCANA TATA RUANG KOTA LANGSA TAHUN 2012-2032 (M.YAFI RAHMATTILLAH, 2025)
PETA SEBARAN DAN TATA GUNA LAHAN MANGROVE BAGIAN BARAT PULAU WEH, KOTA SABANG MENGGUNAKAN SENTINEL-2A (DIRZA TRIWANDA SARAGIH, 2025)