KAJIAN PENGGUNAAN METODE FERMENTASI DAN NON FERMENTASI BIJI KAKAO TERHADAP MUTU BIJI KAKAO DAN TINGKAT PENDAPATAN USAHA TANI KAKAO | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

KAJIAN PENGGUNAAN METODE FERMENTASI DAN NON FERMENTASI BIJI KAKAO TERHADAP MUTU BIJI KAKAO DAN TINGKAT PENDAPATAN USAHA TANI KAKAO


Pengarang

Fauzan - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

0205105010029

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Teknologi Hasil Pertanian (S1) / PDDIKTI : 41231

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala., 2008

Bahasa

Indonesia

No Classification

664.024

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa oegara. Areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 914.051 ha, sebagaian besar (87,3%) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 6,0% dikelola perkebunan besar negara serta 6, 7% perkebunan besar swasta (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BP3), 2005). Biji kakao didefinisikan sebagai biji yang dihasilkan oleh tanaman kakao (Theobroma cacao Linn), yang telah difermentasi, dibersihkan dan dikeringkan. Pada penelitian ini dilakukan kajian penggunaan metode fermentasi dan non fermentasi biji kakao terhadap mutu biji kakao dan tingkat pendapatan petani kakao. Dari dua puluh satu kabupaten/kota di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, ditentukan dua kabupaten secara sengaja berdasarkan bahwa di kabupaten tersebut paling banyak memproduksi kakao dan memiliki metode penanganan yang berbeda. Kabupaten tersebut adalah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dan Kabupaten Pidie. Harga penjualan biji kakao kering tidak selalu stabil, hal ini ditentukan oleh kualitas biji kakao yang akan dijual dan jumlah biji kakao yang ada di pasaran. Biji kakao asal Kabupaten Abdya memiliki harga jual yang tinggi, harga tertinggi yaitu Rp. 17.500,- per kilogram, sedangkan harga terendah yaitu Rp.16.000,- per kilogram. Sedangkan biji kakao asal Kabupaten Pidie memiliki harga penjualan tertinggi yaitu Rp. 16.000,- per kilogram dan harga terendah yaitu Rp. 14.500,- per kilogram. Kualitas biji kakao asal Kabupaten Abdya lebih bagus, karena petani kakao di Kabupaten Abdya melakukan fermentasi biji kakao yaitu dengan cara memasukkan ke dalam karung plastik dan ditindih beban selarna dua hari, biji kakao asal Kabupaten Abdya tergolong ke dalam kelas mutu II. Sedangkan petani kakao Kabupaten Pidie tidak melakukan fermentasi biji kakao. Petani kakao Kabupaten Pidie langsung menjemur biji kakaohasil panen mereka sehingga biji kakao asal Kabupaten Pidie tergolong ke dalarn kelas mutu sub standar. Tingkat pendapatan usaha tani di Kabupaten Abdya lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pendapatan usaha tani di Kabupaten Pidie. Usaha tanikakao di Kabupaten Abdya memiliki tingkat pendapatan rata-rata Rp.15.228.800.-/hektar/tahun dengan tingkat pendapatan tertinggi rnencapai Rp.16.144.000.-/hektar/tahun dan tingkat pendapatan terendah berada pada angka Rp.14.650.000.-/hektar/tahun, sedangkan tingkat pendapatan petani kakao Kabupaten Pidie berada pada angka tertinggi Rp.14.850.000.-/hektar/tahun dan angka terendah mencapai Rp.12.500.000.-/hektar/tahun dengan angka tingkat pendapatan rata-rata Rp.13.520.000.-/hektar/tahun.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK