<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="130803">
 <titleInfo>
  <title>THE USE OF CODE MIXING BY TEACHERS IN ELT CLASSROOMS (A QUALITATIVE STUDY AT SMA NEGERI 1 BANDA ACEH)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>KHANSA RIFA NABILA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakulas KIP Bahasa Inggris</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan guru menggunakan code mixing dalam kelas ELT di SMA Negeri 1 Banda Aceh. Penelitian ini diterapkan sebagai penelitian deskriptif kualitatif. Guru bahasa Inggris dijadikan subjek dan sumber data primer. Dua instrumen digunakan, yaitu observasi dan wawancara. Observasi didasarkan pada alasan Hoffman (2014). Hasil observasi menunjukkan bahwa ada 6 dari 7 alasan guru menggunakan code mixing dalam proses ELT, kecuali mengutip ucapan orang lain. Tiga alasan paling dominan adalah berbicara tentang topik tertentu (66,2%), diikuti oleh interjeksi dan niat untuk memperjelas isi pembicaraan kepada lawan bicara (masing-masing 10,3%). Guru menggunakan code mixing dalam 14 situasi kelas yang berbeda, dua situasi paling dominan adalah menjelaskan materi (41,2%) dan meminta pendapat siswa (23,3%). Hasil wawancara menunjukkan bahwa semua guru berpendapat bahwa penggunaan code mixing dalam proses ELT di kelas itu penting. Code mixing digunakan untuk menciptakan kondisi yang lebih nyaman bagi siswa. Frekuensi penggunaan code mixing tergantung pada kelas/tingkat siswa. Kendala yang dihadapi adalah ketika ada presentasi dari pengawas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta bagaimana menyeimbangkan efektivitas penggunaan code mixing di kelas dengan target pencapaian pelajaran, terutama untuk kelas tingkat bawah.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>130803</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-09-09 14:36:59</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-09-09 14:56:00</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>