Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
THESES
ADAPTIVE REUSE PADA RUMAH KOLONIAL MENJADI CAFé DI KOTA BANDA ACEH
Pengarang
Nurul Qaumarin - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nomor Pokok Mahasiswa
2204204010021
Fakultas & Prodi
Fakultas Teknik / Arsitektur / PDDIKTI :
Subject
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2024
Bahasa
Indonesia
No Classification
724.1
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Aceh salah satu wilayah yang mengalami penjajahan Belanda di tahun 1873-1942, ini menjadi periode bersejarah bagi masyarakat Aceh. Kedatangan Belanda ke tanah Aceh terlihat dari peninggalan-peningalan bangunan birokrasi pemerintahan dan rumah tinggal bergaya kolonial yang berhasil didirikan. Saat ini arsitektur peninggalan Belanda telah menjadi satu cagar budaya di Banda Aceh. Namun seiring perkembangan zaman dan kebutuhan ruang yang semakin meningkat, banyak bangunan kolonial berupa rumah tinggal telah di bongkar. Saat ini yang tertinggal dari rumah kolonial adalah bangunan milik pemerintah. Solusi konservasi adaptive ruese alihfungsi bangunan mencakup perubahan interior dan eksterior dengan tetap mempertahankan bentuk dan struktur aslinya, adalah salah satu cara untuk mempertahankan bangunan. Di Kota Banda Aceh terdapat dua café hasil adaptive reuse rumah tinggal kolonial yaitu: Café T36 Coffee dan SOBA Café yang berlokasi di sekitar Taman Sari. Tujuan penelitian ini akan mengidentifikasi dan mempelajari penerapan konsep adaptive reuse pada bangunan rumah kolonial yang dialih fungsikan menjadi café dan mengetahui persepsi pengunjung terhadap perubahan alihfungsi bangunan rumah kolonial menjadi café. Kajian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik trianggulasi sumber data (observasi-wawancara) dan teori yang bertujuan dapat menganalisa berbagai perspektif. Hasil penelitian menunjukan bahwa bagian utama seperti struktur dan fasade tetap dipertahankan sedangkan instalasi dan interior telah disesuaikan dengan fungsi baru. Upaya menghadirkan masa lalu dapat dilakukan dengan menghadirkan kembali unsur-unsur lama (gaya arsitektur kolonial) dalam penataan interior berupa gaya furniture, material, pola lantai, ornamen dinding, serta plafon. Untuk penataan ruang salah satu perubahan yang dominan adalah penyediaan ruang publi yang lebih luas untuk mengakomodir fungsi komersil. Bagi pengunjung melakukan adaptive reuse pada bangunan dan mempertahankan keaslian dan ciri khas kolonial merupakan inovasi yang bagus dan menjadi daya tarik utama dari kedua café ini. Ruang yang diatur dengan baik, sirkulasi udara yang baik, penataan dan pemilihan furnitur yang sesuai, dan suasana yang hangat menjadi faktor yang memuat pengunjung merasa betah.
Aceh is one of the regions that experienced Dutch colonization from 1873 to 1942, marking a historic period for the Acehnese community. The Dutch presence in Aceh is evident from the colonial-style bureaucratic and residential buildings they established. Today, Dutch colonial architecture has become a cultural heritage in Banda Aceh. However, with the passage of time and increasing space needs, many colonial residential buildings have been demolished. Currently, what remains of these colonial homes are government-owned buildings. Adaptive reuse conservation, which involves modifying the interior and exterior while retaining the original form and structure, is one approach to preserving these buildings. In Banda Aceh, there are two cafés that are examples of adaptive reuse of colonial residential buildings: Café T36 Coffee and SOBA Café, located around Taman Sari. This study aims to identify and examine the application of adaptive reuse concepts in converting colonial homes into cafés and to understand visitors' perceptions of the transformation from colonial residential buildings to cafés. The research employs a descriptive qualitative method with triangulation of data sources (observation-interviews) and theory to analyze various perspectives. The findings indicate that the main parts, such as the structure and façade, have been preserved, while the installations and interior have been adapted to the new function. Efforts to bring back the past are achieved by reintroducing old elements (colonial architectural style) in the interior design, including furniture style, materials, floor patterns, wall ornaments, and ceilings. One notable change in spatial arrangement is the provision of larger public areas to accommodate commercial functions. For visitors, adaptive reuse of buildings while maintaining their colonial authenticity and characteristics is seen as a positive innovation and a major attraction of these two cafés. Well-organized spaces, good air circulation, appropriate furniture arrangement and selection, and a warm atmosphere contribute to making visitors feel comfortable.
PENGARUH PERCEIVED INNOVATIVENESS TERHADAP INTERPERSONAL ADAPTIVE BEHAVIOR DAN SERVICE OFFERING ADAPTIVE BEHAVIOR YANG DIMEDIASI OLEH JOB ENGANGEMENT PADA KARYAWAN CAFE DI KOTA BANDA ACEH (Yuliana Syaputri, 2025)
PEMETAAN BANGUNAN KOLONIAL PUBLIK DI BANDA ACEH (INTAN MUTIA, 2025)
PEMETAAN RUMAH KOLONIAL SEBAGAI UPAYA KONSERVASI WARISAN BUDAYA DI BANDA ACEH (ANISA SALSABILLA, 2025)
ADAPTIVE REUSE RUMOH ACEH UNTUK MENDUKUNG DAYA TARIK WISATA DI DESA LUBUK SUKON KABUPATEN RNACEH BESAR (Muhammad Nazli, 2026)
PENGARUH SUASANA TOKO DAN KUALITAS LAYANAN TERHADAP NIAT BELI ULANG YANG DIMEDIASI OLEH KEPUASAN PELANGGAN THEMATIC CAFE DI KOTA BANDA ACEH (Putri Aulia, 2023)