<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="129965">
 <titleInfo>
  <title>KAJIAN TINGKAT PENCAHAYAAN ALAMI PADA INTERIOR MUSEUM RUMAH ACEH KOTA LHOKSEUMAWE</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Annisa Yumaira</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Aceh merupakan salah satu provinsi yang berada di paling barat indonesia memiliki keunikan dan keragaman budayanya, yang mana rakyat Aceh memiliki banyak filosofi tersendiri salah satunya yaitu Rumah Tradisional Aceh atau masyarakat Aceh menyebutnya Rumah Aceh. Rumah tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat berlindung, tempat berkumpul keluarga, identitas penghuni, tempat berkumpul keluarga, dan serta sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas kekayaan alam yang diberikan oleh Tuhan disaat itu. Dengan seiring perkembangan zaman dan juga budaya, fungsi rumah tersebut berubah akibat gaya hidup dan terbatasnya fungsi ruang. Maka rumah aceh yang masih ada saat ini sengaja dipertahankan dan dilestarikan sebagai simbol budaya daerah setempat. Rumah Aceh kota Lhokseumawe dibangun pada tahun 2014 dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe yang berubah fungsinya menjadi Museum, namun, pada dasarnya museum ini sejatinya bukanlah museum yang ideal karena merupakan salah satu adaptive reuse dari rumah adat Aceh yang dipertahankan sehingga rumah tersebut tidak siap dijadikan museum. Tentunya bukaan yang ada seperti pintu dan juga jendela tidak sesuai sebagaimana pedoman untuk bangunan museum.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat pencahayaan alami pada interior Museum Rumah Aceh di Kota Lhokseumawe. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh luas dan posisi bukaan terhadap kinerja pencahayaan alami, serta menemukan pencahayaan yang tepat berdasarkan standar pencahayaan SNI 03-6575-2001. Museum Rumah Aceh, yang awalnya merupakan rumah adat tradisional, telah diubah menjadi museum dan tetap dipertahankan sebagai simbol budaya daerah setempat. Namun, kondisi pencahayaan alami dalam ruangan museum tersebut tidak optimal karena ukuran bukaan yang terbatas. Penelitian ini menggunakan metode pengukuran iluminasi pencahayaan di lapangan dan simulasi menggunakan aplikasi Velux Daylight visualizer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi pencahayaan alami dalam ruangan Museum Rumah Aceh tidak memenuhi standar pencahayaan yang diharapkan. Pengukuran iluminasi di lapangan menunjukkan bahwa intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan sangat tergantung pada ukuran dan posisi bukaan jendela.&#13;
Simulasi menggunakan aplikasi Velux Daylight visualizer juga menunjukkan bahwa pencahayaan alami yang optimal dapat diperoleh dengan perancangan tata letak dan pencahayaan yang tepat. Dalam penelitian ini, kita juga menemukan bahwa pencahayaan alami memiliki beberapa variabel yang mempengaruhi kualitas cahaya, seperti intensitas cahaya, faktor terang langit, dan dimensi bukaan. Variabel-variabel ini digunakan dalam analisis deskriptif dan pengukuran kualitas pencahayaan alami. Dengan demikian, laporan ini menyediakan referensi penelitian tentang studi kasus pencahayaan alami dalam bangunan museum dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kenyamanan visual bagi pengunjung Museum Rumah Aceh. Penelitian ini juga dapat menjadi pertimbangan dalam merancang tata letak dan pencahayaan yang tepat di bangunan museum lainnya.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>129965</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-09-04 11:01:29</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-09-05 01:40:41</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>