<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="129898">
 <titleInfo>
  <title>EVALUASI PENCAHAYAAN ALAMI TERHADAP KENYAMANAN VISUAL PADA MASJID VERNAKULAR (STUDI KASUS :</title>
  <subTitle>MASJID TUHA INDRAPURI ACEH BESAR)</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Yayang Nisfulawati</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Magister Arsitektur</publisher>
   <dateIssued></dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Pencahayaan alami pada masjid memiliki peran penting dalam menciptakan citra visual yang mengikuti standar iluminasi dan dipengaruhi oleh tipologi bukaan. Studi kasus berlokasi pada Masjid Tuha Indrapuri karena masjid ini merupakan salah satu situs warisan cagar budaya yang harus dipertahankan eksistensi nya. Masjid ini memiliki atap unik bertingkat tiga, setiap tingkat dipisahkan oleh bukaan clerestory yang memfasilitasi pencahayaan alami. Permasalahannya adalah bukaan pada setiap orientasi memiliki elevasi yang berbeda, permasalahan lainnya yaitu bukaan clerestory pada tingkat kedua yang semula terbuka kini telah ditutupi oleh material kaca mika sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap daya reflektansi cahaya yang mana juga akan berpengaruh terhadap kenyamanan visual penggunanya karena berdasarkan survei awal kondisi masjid ini di siang dan sore hari termasuk gelap untuk aktifitas mengaji. Studi ini mengevaluasi evaluasi bukaan clerestory ini dalam hal kualitas dan distribusi pencahayaan alami berdasarkan SNI 6197-2020 dan menganalisis tingkat kenyamanan visual pengguna masjid berdasarkan persepsi penggunanya. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan eksperimental yang mengukur iluminasi dengan luxmeter, data lapangan diolah dengan Surfer 26.3.269, simulasi menggunakan Velux Daylight Visualizer 3.1, dan tingkat kenyamanan visual dilakukan dengan kuesioner. Pengukuran lapangan mengungkapkan bahwa intensitas pencahayaan rata-rata di dalam masjid adalah 186 lux dan hasil simulasi eksisting 166 lux, yang masih di bawah standar Indonesia sebesar 200 lux (SNI 6197-2020). Namun faktor distribusi pencahayaan dan kenyamanan visual mendapat umpan balik positif, dengan lebih dari 60% pengguna menyatakan kepuasan terhadap evaluasi pencahayaan masjid ini. Rekomendasinya adalah dilakukan skenario bukaan sehingga mendapatkan iluminasi yang sesuai SNI yaitu 254 lux.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>129898</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-09-03 19:34:24</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-09-04 09:31:00</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>