<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="129824">
 <titleInfo>
  <title>KAJIAN PENINGKATAN MUTU TEPUNG BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM L) DENGAN BEBERAPA JENIS LARUTAN PERENDAM (NAHSO3, NAOH, DAN  C6H8O7)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Santi Noviasari</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2005</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tepung bawang putih yang diteliti  adalah tepung bawang putih yang dibuat dari  bawang  putih  varietas  Lumbu  Putih  yang  berwama  putih,  berbentuk  bulat dengan dasar datar yang berdiameter ± 3-3,5  cm dengan panjang siung ± 2-25 cm.   Pembuatan   tepung   bawang   putih   ini   dimaksudkan   untuk   memberikan kemudahan  dalam penggunaannya,  yaitu dapat  disimpan  lebih lama dibandingkan dengan memakai bawang putih segar dan langsung dapat digunakan baik untuk keperluan sehari-hari  sebagai penyedap  makanan ataupun untuk: keperluan  industri serta sebagai bahan obat tradisional.&#13;
Tetapi dalam pengolahannya  menjadi tepung, bawang putih akan mengalami beberapa  perlakuan  diantaranya   pengirisan,  penggilingan   dan  pengeringan   yang dapat  menyebabkan  terjadinya  berbagai  perubahan pada senyawa-senyawa  bioaktif yang  terdapat  didalamnya.  Perubahan  senyawa-senyawa  bioaktif  ini berhubungan erat dengan khasiat dan komponen  aroma. Hal tersebut di atas secara umum dapat ditanggulangi  dengan  cara  pemanasan  pendahuluan  ataupun  dengan  perendaman dalam larutan bisulfit. Namun penggunaan sulfit (SO2) sudah mulai dikurangi karena pada dosis tertentu dapat menimbulkan gangguan kesehatan, seperti Iuka usus.  Selain menggunakan  larutan bisulfit, beberapa  larutan lain seperti natrium hidroksida  dan asam sitrat telah  digunakan  pada beberapa  produk  untuk mempertahankan  warna. Perbedaan suhu pengeringan  dan konsentrasi  larutan perendam yang diberikan juga dapat  mempengaruhi   kadar  air  dan  kadar  minyak  atsiri  tepung  bawang  putih diharapkan  dari penelitian  ini didapatkan  tepung bawang putih dengan mutu yang baik.&#13;
Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menentukan  jenis  dan  konsentrasi  larutan&#13;
perendam   (natrium   bisulfit,   natrium   hidroksida,   dan  asam  sitrat),   serta   suhu pengeringan  yang tepat sehingga dapat mempertahankan mutu tepung bawang putih.&#13;
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap  (RAL) pola 2 x 4 x 2, yang terdiri  atas tiga faktor :   Faktor pertama adalah pengaruh  suhu pengeringan  (S) yang terdiri atas dua taraf yaitu:  S 1        = 40C dan S = 50C.  Faktor kedua adalah jenis  larutan perendam  (P) terdiri  atas empat taraf yaitu:  P0 = tanpa bahan perendam (kontrol),    P1,  = perendaman dengan natrium bisulfit  (NaHS03),   P2  =  perendaman   dengan  natrium  hidroksida  (Na0H),   dan P3  = perendaman  dengan  asam  sitrat  (C6H8O7)).  Faktor  ketiga  adalah  konsentrasi&#13;
bahan perendam (K) terdiri atas dua taraf yaitu: K1 = 500 ppm dan K2=  1000 ppm. Parameter yang diamati adalah kadar air,  kadar minyak atsiri, kadar abu, kadar abu&#13;
tidak larut asam, rendemen,  dan uji organoleptik  (warna, aroma dan rasa).  Analisis yang  sama  dilakukan  terhadap  bawang  putih  segar,  kecuali  penentuan  rendemen&#13;
dan uji organoleptik. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pengeringan (40 dan 50C) berpengaruh   sangat   nyata  (P</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>129824</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-09-03 15:15:35</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-09-03 15:15:35</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>