<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="129587">
 <titleInfo>
  <title>PERANCANGAN MUSEUM BUDAYA KOTA SUBULUSSALAM</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Evi Sofia Hakim</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik Arsitektur</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kebudayaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan cipta, rasa, karsa, dan hasil karya masyarakat. Undang RI No. 5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan, mengamanatkan untuk terus melestarikan budaya yang sudah ada dalam masyarakat daerah di Indonesia seperti tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, Bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional. Secara geografis Kota Subulussalam berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tenggara di utara, di selatan dengan Kabupaten Aceh Singkil, di timur dengan Kabupaten Aceh Selatan, dan di barat dengan Provinsi Sumatera Utara. Hal ini menjadikan kota Subulussalam sebagai  kota multicultural. Anharudin, SH (2017), Ketua Majelis Adat Aceh Kota Subulussalam, menyatakan bahwa kedatangan berbagai suku dan budaya dari luar ke Kota Subulussalam dapat berpotensi merusak adat budaya asli daerah, karena adanya proses asimilasi dan pengaruh dari luar yang terjadi seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, Kota Subulussalam membutuhkan sebuah fasilitas pendidikan budaya agar tetap terjaga dan terlestarikan kebudayaannya. Tema Rancangan Cultural Symbol dipilih  untuk menjaga agar unsur budaya tetap terwujud dalam bangunan dan menjadi sebuah simbol budaya bagi daerah. Geoffrey Broadbent di dalam bukunya yang berjudul “Signs, Symbols, and Architecture” menyatakan bahwa arsitektur yang berfungsi sebagai simbol budaya adalah arsitektur yang mampu mengekspresikan karakteristik suatu budaya tertentu. Dengan demikian, penerapan Cultural Symbol diharapkan dapat mendukung perancangan Museum budaya  yang lebih efisien, nyaman, dan menarik secara visual bagi pengguna Museum Budaya di Kota Subulussalam.&#13;
Kata kunci: Kota Subulussalam, Cultural Symbol, Museum, Budaya&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>CULTURE</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>MUSEUMS - ARCHITECTURE</topic>
 </subject>
 <classification>727.6</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>129587</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-09-02 16:50:07</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-06-25 15:03:38</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>