<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="129040">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS YURIDIS PEMERKOSAAN OLEH AYAH TERHADAP ANAK KANDUNGNYA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>REISYA LAHANDA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Hukum</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Berdasarkan data DP3A Aceh, saat ini terjadi peningkatan kasus kekerasan seksual khususnya perkosaan oleh ayah terhadap anak kandungnya. Hal ini tentunya memerlukan perhatian khusus dan penanganan hukum yang tegas terkait kasus perkosaan yang dilakukan oleh ayah terhadap anak kandungnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif melalui pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konsep, dengan analisis kualitatif. Hasil penelitian menjelaskan bahwa konsep pemidanaan bagi ayah pelaku pemerkosaan terhadap anak kandung diatur dalam beberapa peraturan pidana, yaitu KUHP Baru, Undang-Undang Perlindungan Anak, dan Undang-Undang TPKS dengan menekankan adanya pidana tambahan 1/3 dari ancaman pidana biasa; serta Qanun Jinayat dengan sanksi alternatif berupa cambuk, denda, atau penjara. Konsep pemidanaan di atas justru menimbulkan ketidakpastian hukum karena banyaknya aturan yang mengatur dan sanksi pidana yang beragam membuat aturan tersebut tidak konsisten. Meskipun konsep pemidanaan yang diberikan merupakan bentuk pelindungan hukum bagi anak korban, namun hal ini dinilai belum cukup menjamin pelindungan terhadap anak korban terutama pada proses pemulihan korban setelah dilakukannya proses hukum bagi pelaku. Dalam kasus ini dapat diterapkan pencabutan hak asuh terhadap ayah sebagai pelaku, sebagai bagian dari upaya untuk menjauhkan anak korban dari pelaku perkosaan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>RAPE (CRIME) - LAW</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>CHILD ABUSE</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>FATHERS</topic>
 </subject>
 <classification>345.025 32</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>129040</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-08-29 13:52:37</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-21 10:53:02</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>