<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="128889">
 <titleInfo>
  <title>HISTOPATOLOGI INFLAMASI LUKA BAKAR DERAJAT II PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) DENGAN PEMBERIAN KRIM EKSTRAK DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABURA L.)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Fadhilla Ananda Putri</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>&#13;
Daun kersen mengandung flavonoid, tanin dan saponin yang berpotensi mempercepat fase inflamasi pada luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati histopatologi reaksi inflamasi (infilrasi sel radang, edema dan hemoragi) pada luka bakar pasca pemberian krim ekstrak daun kersen. Sampel yang digunakan adalah sebanyak 36 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) jantan, berumur 7-8 minggu dan memiliki bobot 150-250 gram. Tikus dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok (P0) sebagai kontrol negatif menggunakan NaCl fisiologis 0,9%, kelompok (P1) krim dengan konsentrasi ekstrak daun kersen 5%, kelompok (P2) krim ekstrak daun kersen dengan konsentrasi 10%, dan kelompok (P3) krim ekstrak daun kersen dengan konsentrasi 15%. Terapi obat dilakukan 2 kali sehari, lalu sampel dikoleksi pada hari ke 3, 7 dan 14. Data yang diperoleh dari sampel kemudian dianalisis menggunakan uji Kruskal wallis. Hasil pengamatan pada hari ke-3 perlakuan P0, P1 P2 P3 di dapatkan hasil infilrasi sel radang (3,67 ± 0,57), (3,00 ± 0,00), (2,67 ± 0,57),  (1,67 ± 0,57) ; edema  (1,67 ± 0,57), (1.33 ± 0,57), (1,33 ± 0,57), (1,00 ± 0,00) ; hemoragi (0,00  ± 0,00), (0,33 ± 0,57), (0,00 ± 0,00) , (0,00 ± 0,00). Pengamatan pada hari ke-7 perlakuan P0, P1 P2 P3 didapatkan hasil infiltrasi sel radang (3,33 ± 0,57), (2,67 ± 0,57), (2,33 ± 0,57), (1,33 ± 0,57) ; edema (1,33 ± 0,57) ; (1,00 ± 0,00) ; (1,00 ± 0,00) ; (1,00 ± 0,00) ; hemoragi (0,00  ± 0,00), (0,00 ± 0,00), (0,00 ± 0,00), (0,00 ± 0,00). Pengamatan pada hari ke-14 perlakuan P0, P1 P2 P3 didapatkan hasil infilrasi sel radang (3,00 ± 0,00), (2,33 ± 0,57), (2,00 ± 0,00), (1,00 ± 0,00);  edema (1,00 ± 0,00), (0,33 ± 0,57), (0,33 ± 0,57), (0,00 ± 0,00); hemoragi (0,00  ± 0,00), (0,00 ± 0,00), (0,00 ± 0,00), (0,00 ± 0,00). Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan  bahwa krim ekstrak daun kersen dengan kosentrasi 5%, 10% dan 15% dapat mengurangi jumlah reaksi inflamasi. Krim ekstrak daun kersen dengan konsentrasi 15% memiliki jumlah reaksi inflamasi paling sedikit sehingga dapat mempercepat fase inflamasi.&#13;
&#13;
Kata kunci : Daun kersen, Fase inflamasi, Luka bakar &#13;
&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>128889</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-08-28 10:22:50</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-08-28 12:06:27</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>