<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="128198">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH PERLAKUAN PENGGARAMAN, PENGGUNAAN  ANTIOKSIDAN DAN CARA PENGERINGAN TERHADAP  MUTU TERI ASIN KERING</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Nanda Vanessa</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2007</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Ikan teri (Stolephorus sp) dikelompokkan dalam ikan pelagis yang merupakan  kelompok  ikan  yang  hidup  dekat  perairan  atau  di  bawah  permukaan  air.  Ikan teri  dapat dimanfaatkan menjadi teri asin kering. Manfaat atau kelebihan dari produk teri  asin  kering  ini   adalah  karena  pengolahannya  yang  sederhana,  umumya  hanya  meliputi proses pencucian, penggaraman dan pengeringan saja. Disamping itu produk  ini  bermanfaat  sebagai  sumber  asupan  gizi   yang  tinggi  terutama  protein.  Lagipula  harga  penjualannya  relatif murah,  sehingga  dapat  dijangkau  oleh   masyarakat  dari  kalangan manapun.&#13;
               Kecepatan pengeringan dan mutu ikan sangat tergantung pada inteusitas sinar  matahari   (suhu   dan  kelembaban).   Oleh   karena   itu   perlu   dikembangkan   tipe pengeringan  yang lain yang tidak bergantung pada alam.  Pengendalian aktivitas air atau  kadar  air  menjadi   sangat  penting,  baik  dalani  proses  pengolahan  maupun pengawetan   bahan   pangan,   dalam   hal   ini   diatasi   dengan   metode   penggaraman.  Adapun adanya kandungan  lemak dan asam  lemak dalam ikan dapat menyebabkan  proses  oksidasi  lemak  akibat  adanya  oksigen  bebas  di   bawch  pengaruh  sinar ultra violet atau katalis logaln pada suhu tinggi yang dapat secara langsung mengoksidasi asam lemak tak jenuh. Hal itu dapat diatasi dengan penarnbahan antioksidan.  &#13;
               Penelitian    ini    bertujuan    menentukan    cara    penggaraman,    penggunaan  antioksidan  (a-tokoferol  dan  vitamin  C)  dan  cara  pengeringan  yang  tepat  untuk  mendapatkan  mutu  teri  asin  kering  yang  terbaik.  Ada  3  faktor  yang  dikaji,  yaitu  faktor perlakuan penggaraman 5 % garam (A1  = perendalaman dalam larutan garam suhu 100oC selama 1 menit,A2 = perendaman dalam larutan garam suhu 100oC selama 3 menit = perebusan dalam larutan garam suhu 100o C selama 15 menit), faktor penggunaan antioksidan (B1  = tanpa antioksidan, B2 = a-tokoferol  0,  02%  dari  berat  ikan,  B3  =  Vitamin  C  0,  02%  dari  berat  ikan),  dan  faktor cara  pengeringan (C l  = pengeringan alani (matahari), C2 =  pengeringan buatan (oven)).  Ada   18   perlakuan   dengan   dua  kali   ulangan   sehingga  menghasilkan  36   satuan  percobaan.  Parameter yang diamati  adalah kadar air,  bilangan peroksida,  dan kadar  lemak   (ketiga-tiganya   dianalisis    sebelum   produk   disimpan),   kemudian   setelah  disimpan   selama   I   bulan   parameter  yang  dianalisa  adalah   kadar   air,   bilangan  peroksida.   kadar   lemak,   kadar   protein,   kadar   garan,   dan   dilakukan   uji   nilai  organoleptik yang  terdiri dari warna, aroma secara umum, aroma tengik, penampakan  dan tekstur.&#13;
               Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penggaranan dengan waktu  yang  lebih  lama cenderung   menaikkan  kadar air,  menurunkan  bilangan peroksida,  menurunkan kadar lemak (ketiga-tiganya dianalisis  sebelum penyimpanan),  setelah  disimpan  terlihat  perlakuan  tersebut  menaikkan  kadar  air,  menurunkan  bilangan peroksida, menurunkan kadar lemak, menurunkan kadar protein dan menaikkan kadar  garam. Hal ini diduga semakin lama   penggaraman menyebabkan lemak akan semakin  terdegradasi  sehingga kadar  lemak  semakin  berkurang,  begitupun   dengan bilangan peroksida  yang  bersifat  sangat  tidak  stabil  terhadap  suhu  tinggi.  Untuk  protein,  semakin lama  penggaraman dengan suhu tinggi  dan waktu lebih lania maka protein  akan  terdegradasi.  Selanjutnya  kadar  garam   akan  semakin  berpenetrasi  ke  dalam produk seiring bertambahnya waktu penggaraman.&#13;
               Penggunaan  antioksidan  cenderung  menghasilkan  kadar  air  yang  semakin  tinggi,   menurunkan  bilangan  peroksida,  menaikkan  kadar  lemak (ketiga-tiganya  dianalisis   sebelum   penyimpanan),   setelah   disimpan   terlihat   perlakuan   tersebut  menaikkan  kadar  air,  menurunkan  bilangan  peroksida,  menaikkan  kadar  lemak,  menurunkan  kadar  protein  dan  menurunkan  kadar  garam.  Hal  ilii  diduga  bilangan  peroksida  akan  menurun  karena  adanya  antioksidan  yang  dapat  mencegah  atau  menghambat reaksi oksidasi, sehingga otomatis lemak dapat dipertahankan. &#13;
               Perlakuan cara pengeringan buatan  (oven) cenderung menunmkan kadar air,   menaikkan  bilangan  peroksida,  menurunkan  kadar  lemak  (ketiga-tiganya  dianalisis  sebelum  penyimpanan),  setelah  disimpan  terlihat  perlakuan  tersebut  menurunkan  kadar  air,  menurunkan  bilangan peroksida,  menurunkan kadar  lemak,  menurunkan protein dan menaikkan kadar garam, Hal ini diduga dengan memakai oven suhu lebih  stabil,  sehingga  penurunan  kadar  air  signifikan.  Kemudian  karena  suhu  oven  yang  panas,  menyebabkan  lemak terdegradasi  sehingga kadar lemak  menurun  sedangkan  bilangan  peroksida  meningkat.  Begitupula  dengan  protein  dapat  pula  terdegradasi.  Untuk   garam,  seiring  dengan  pengurangan  jumlah  air,  clan  meningkatkan  total  padatan. Selanjutnya setelah penyimpanan,  bilangan peroksida menurun karena lama   kelamaan jumlah lemak yang dapat dioksidasi juga menurun kadarnya seiring  waktu  penyimpanan.  Penerimaan  uji  organoleptik  terhadap  warna,  aroma  secara  umum,  aroma tengik, penampakan  dan tekstur menghasilkan penerimaan antara lebih baik,  tidak berbeda dan lebih buruk. &#13;
&#13;
&#13;
&#13;
               Teri asin dengan kualitas terbaik di peroleh dari interaksi perlakuan perebusan dalam larutan garam 5 % suhu 100oC  selama 15 menit,  penggunaan antioksidan vitamin C dan pengeringan oven (A383C2) dengan karakteristik sebagai&#13;
berikut:   sebelum  disimpan  didapat  kadar  air  31,  42%,  bilangan  peroksida  1,  93  milimal per 1000 g, kadar lemak 2, 06%, kemudian setelah disimpan 1  bulan didapat  kadar air 24, 54%, bilangan peroksida 2, 28 milimol per 1000 g, kadar lemck 1, 75%,  kadar protein 27,  63%, kadar garam  2,  14%,  hilai  organoleptik warna -0,  38  (tidak  berbeda dan lebih buruk), aroma  secara umum -0,18 (tidak berbeda dan lebih buruk),  aroma  tengik  -0,  30  (tidak  berbeda  dan  lebih  buruk),  penampakan   -0,  48  (tidak berbeda dan lebih buruk), tekstur -0, 20  (tidak berbeda dan lebih buruk).</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>128198</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-08-19 13:10:31</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-08-19 13:10:31</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>