<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="128117">
 <titleInfo>
  <title>POTENSI  BEBERAPA  TANAMAN DI  DAERAH ACEH SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN ALAMI.</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Ade Irma Selpia</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2010</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Oksidasi  pada  bahan  pangan  mengakibatkan   kerusakan   pada  makanan berupa  munculnya  aroma yang  tidak disukai,  berubahnya  warna  makanan  yang menjadi kurang  menarik,  rusaknya  sebagian zat gizi dan terbentuknya  senyawa- senyawa   baru  produk  oksidasi   yang  dapat  membahayakan   kesehatan   tubuh. Rangkaian   reaksi   oksidasi   yang   menyebabkan    terbentuknya   radikal   bebas, sehingga  dapat  menyebabkan  terjadinya  gangguan kesehatan  lainnya. Salah satu cara efektif untuk mencegah  kerusakan  mutu oleh oksidasi pada baban makanan adalah dengan menggunakan  antioksidan. Ada beberapa macam antioksidan  yang diizinkan  untuk  makanan,  baik  dari jenis  antioksidan  sintetis  (Butil  Hidroksil Anisol  (BHA)  dan Butil  Hidroksil  Toluene  (BHT))  maupun  antioksidan  alami. Antioksidan  sintetis yang diproduksi  secara reaksi kimia dianggap  kurang  aman bagi  kesehatan,  sehingga  konsumen  cenderung  mencari  antioksidan  alami yang dipandang  lebih aman karena diperoleh  dari ekstrak  bahan alami.  Meningk.atnya permintaan  antioksidan  alami,  mendorong  banyak  peneliti  untuk terus menggali dan  mencari  lebih jauh  bahan  pangan  yang  dapat  menjadi  sumber  antioksidan&#13;
alami.&#13;
Penelitian ini secara  umum bertujuan untuk mengetahui  kandungan  total fenol,    menentukan    aktivitas    penangkapan     radikal    bebas   DPPH   Radical Scavenging  Metodhe dan mengetahui  daya  reduksi  dari  ekstrak  senyawa  aktif antioksidan  dari  akar/rimpang  rumput teki  (Cyperus  rotundus  L.);  daun  salam koja  (Murayya   koeniigi)   atau   daun   kari   (temurui),   daun   salam   (Eugenia polyantha),  biji  pinang  (Arreca  catechu  L.);  biji  petai  (Parkia  speciosa)  dari varietas  kacang  dan  varietas  gajah,  dan  kulit  buah  pisang  dari  varietas  pisang kepok (Musa paradisiaca  normalis) dengan menggunakan  pelarut air dan etanol 50%.&#13;
Hasil  penelitian   menunjukkan  bahwa  Semua  tanam an  antioksidan   alami yang  digunakan   pada  penelitian   ini  memiliki  kandungan   total  fenol  yang  cukup yaitu  sekitar  5.11  - 55.03 mg asam galat/g bahan, sehingga dapat terekstrak dalam pelarut  air dan  pelarut  etanol  50%.  Pada  ekstra.ksi dengan  menggunakan  pelarut air, daun  salam  dan  biji petai kecil  memiliki kandungan  total feno)  yang  lebih tinggi  (54.13  dan  52.90  mg  asam  galat/g  bahan)  dibandingkan  dengan  ekstrak&#13;
tanaman  lainnya. Sedangkan pada ekstraksi  menggunakan etanol  50% biji pinang,&#13;
daun salam dan biji  petai cina menghasilkan yang lebih tinggi (55.03,  53.06,  dan&#13;
&#13;
52.90  mg asam galat/g bahan) dibandingkan  dengan ekstrak tanaman  lainnya.&#13;
&#13;
Pada ekstraksi dengan menggunakan pelarut air, daun salam koja dan daun salam  memiliki  aktivitas  antioksidan yang  lebih  tinggi  (84.77%   dan  84.36%) dibandingkan dengan ekstrak tanaman  lainnya. Sedangkan  pada ekstraksi  dengan menggunakan pelarut etanol 50%,  biji  petai cina dan kulit pisang kepok memiliki aktivitas   antioksidan   yang   lebih  tinggi  (87.32%    dan   86.09%)    dibandingkan dengan ekstrak tanaman  lainnya. Pada ekstraksi  dengan menggunakan  pelarut air, daun  salam koja dan biji  pinang memiliki  daya reduksi  yang  lebih tinggi  (4.00 pada   absorbansi    700   run)   dibandingkan   dengan   ekstrak   tanaman    lainnya. Sedangkan pada ek.straksi dengan menggunakan pelarut etanol 50%, rimpang teki, daun salam, biji  pinang,  dan biji petai cina (4.00 dan 3.91  pada absorbansi  700 run)  memiliki  daya  reduksi yang  lebih  tinggi  dari ekstrak  tanaman  antioksidan alami lainnya.&#13;
Daun salam koja yang diekstrak dengan menggunakan pelarut air memiliki total  fenol  (54.66  mg asam  galat/g  bahan),  aktivitas   antioksidan  (84.77%),   dan daya  reduksi   (4.00  pada  absorban   700 nm)  yang  lebih  tinggi  dari  keenam tanaman antioksidan alami lainnya. Biji petai cina yang diekstrak dengan menggunakan  pelarut  etanol  50%  memiliki  total  fenol  (52.90   mg asam  galat/g bahan), aktivitas antioksidan (87.32%), dan daya reduksi (3.91  pada absorban 700 nm) yang lebih tinggi dari keenam tanaman antioksidan alami lainnya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>128117</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-08-16 16:54:28</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-08-16 16:54:28</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>