<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="127067">
 <titleInfo>
  <title>TERAPI MEDIS MENGGUNAKAN FITOTERAPI PADA SAPI ACEH YANG MENGALAMI ENDOMETRITIS.</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart> T. Armansyah TR</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Doktor Matematika Dan Aplikasi Sains Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Endometritis merupakan peradangan yang terjadi pada mukosa uterus  (endometrium) yang dapat menyebabkan gangguan reproduksi bersifat sementara dan atau persisten. Tujuan dari penelitian ini mengetahui kemampuan tanaman obat (daun sirih merah, daun kelor, dan umbi bawang putih) untuk mengobati endometritis yang diuji secara in vitro dan in vivo. Penelitian ini dibagi atas 5 tahap. Pada Tahap I, dilakukan karakterisasi dan analisis komponen bioaktif pada daun sirih merah. Pengujian yang dilakukan meliputi uji herbarium, uji rendemen, uji fitokimia, dan analisis metabolit sekunder dengan chromatography-mass spectroscopy (GCMS). Pada Tahap II dan III dilakukan karakterisasi dan analisis senyawa bioaktif masing-masing pada daun kelor dan umbi bawang putih dengan analisis yang sama seperti yang dilakukan pada Tahap I. Pada Tahap I, II, dan III, juga dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli (E. coli) dan Staphylococcus aureus (S. aureus) secara in vitro. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode disc diffusion. Kertas cakram yang mengandung masingmasing ekstrak daun sirih merah, umbi bawang putih, dan daun kelor ditempatkan  di  atas permukaan media padat yang telah diinokulasi dengan bakteri uji. Konsentrasi masing-masing ekstrak yang digunakan adalah 0%, 10%, 20%, 40%, dan 60%. Dari penelitian Tahap I, II, dan III, telah diketahui pelarut dan konsentrasi ekstrak yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab endometritis.   Pada tahap IV dilakukan uji untuk menentukan metode terbaik untuk induksi tikus model endometritis. Pada penelitian ini dilakukan inokulasi bakteri ke dalam uterus tikus dengan menggunakan bakteri E. coli, S. aureus dan campuran  E. coli dan S. aureus. Untuk tujuan tersebut, tikus dibagi dalam 7 kelompok perlakuan. Kelompok K0 merupakan kelompok kontrol yang diinjeksi dengan NaCl sebanyak 0,1 mL; K1 diinjeksi dengan dengan bakteri E. coli 1,5 x 10 CFU/mL sebanyak 50 ?L; K2 diinjeksi dengan dengan S. aureus 1,5 x 10    ix  5  CFU/mL sebanyak 50 ?L; K3 diinjeksi dengan campuran bakteri (S. aureus dan E. coli) 1,5 x 10 CFU/mL sebanyak 50 ?L; K4 diinjeksi dengan bakteri E. coli 1,5 x 10 CFU/mL sebanyak 50 ?L; K5 diinjeksi dengan bakteri S. aureus 1,0 x 10 8  CFU/mL sebanyak 50 ?L; dan K6 diinjeksi dengan campuran bakteri (S. aureus dan E. coli)  1,5 x 10 CFU/mL sebanyak 50 ?L. Kelompok tikus yang mengalami kerusakan berat pada uterus dijadikan dasar teori penyebab endometritis pada ternak.  Penelitian Tahap V bertujuan mengetahui efektivitas fitoterapi dalam penurunan derajat endometritis dan peningkatan angka keberhasilan inseminasi buatan pada sapi aceh yang mengalami endometritis. Penelitian ini meliputi tahapan induksi berahi dengan prostaglandin, koleksi mukus, identifikasi sapi aceh penderita endometritis dengan uji White Side Test (WST), swab uterus untuk pemeriksaan mikroba, inseminasi buatan, dan pemeriksaan kebuntingan. Dalam penelitian ini digunakan sembilan ekor sapi aceh betina berusia 3-5 tahun dengan bobot badan 150-250 kg yang didiagnosis mengalami repeat breeding, yakni sapisapi yang telah dikawinkan &gt;3 kali namun gagal menjadi bunting. Mukus serviks  pada sapi tersebut saat estrus kemudian diuji dengan WST untuk menentukan level  endometritisnya.  Setelah uji WST, sapi-sapi dikelompokkan ke dalam tiga  5  8  5  8    kelompok perlakuan, yakni kelompok yang diberikan ekstrak daun sirih merah (C1, n= 3), ekstrak daun kelor (C2, n= 3), dan ekstrak bawang putih (C3, n= 3). Pemberian ekstrak dilakukan setiap 24 jam selama 7 hari sebanyak 20 mL dengan konsentrasi 40% menggunakan gun inseminasi yang dimasukkan ke dalam uterus. Ekstrak etanol daun sirih merah, daun kelor, dan bawang putih lalu disemprotkan dengan disposable syringe melalui pipet inseminasi buatan (IB).   Hasil penelitian Tahap I menunjukkan senyawa metabolit sekunder terbanyak diperoleh dari daun sirih merah yang diekstraksi dengan pelarut etil asetat yang terdiri atas senyawa flavonoid, terpenoid, steroid, tanin, fenolik, dan saponin. Pada ekstrak etanol diperoleh senyawa flavonoid, steroid, dan fenolik, sedangkan pada pelarut  n-heksana hanya diperoleh satu metabolit sekunder yakni steroid. Hasil analisis GC-MS ekstrak daun sirih merah terdapat 25 puncak pada fraksi         n-heksana, 15 puncak fraksi etil asetat, dan 24 puncak pada fraksi etanol yang berarti terdapat 25, 15, dan 24 senyawa yang ada pada masing-masing fraksi             n-heksana, etil asetat, dan etanol. Hasil uji daya hambat diketahui bahwa ekstrak   n-heksana dan etanol daun sirih merah tidak mempunyai daya antibakteri terhadap E. coli dan S. aureus kecuali pada fraksi etil asetat.   Pada penelitian Tahap II, hasil pemeriksaan fitokimia ekstrak daun kelor dengan tiga fraksi pelarut menunjukkan bahwa senyawa aktif terbanyak diperoleh dengan fraksi pelarut etanol dengan metabolit sekunder terdiri atas flavonoid, steroid, tanin, dan alkaloid. Pada fraksi pelarut etil asetat diperoleh senyawa flavonoid, terpenoid, dan fenolik sedangkan pada fraksi pelarut n-heksana hanya diperoleh dua metabolit sekunder yakni flavonoid dan steroid. Hasil analisis GCMS ekstrak daun kelor memiliki 20 puncak pada fraksi n-heksana, 17 puncak fraksi  etil  asetat, dan 14 puncak pada fraksi etanol. Hasil uji daya hambat ekstrak daun kelor diketahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol lebih baik dibandingkan.              n-heksana dan etil asetat.    Pada penelitian Tahap III, hasil pemeriksaan fitokimia ekstrak umbi bawang putih dengan tiga fraksi pelarut menunjukkan senyawa metabolit sekunder terbanyak diperoleh dengan fraksi pelarut etil asetat dengan metabolit sekunder terdiri atas flavonoid, tanin, fenolik, saponin, dan alkaloid. Pada fraksi pelarut etanol diperoleh metabolit sekunder steroid, fenolik, dan saponin, sedangkan pada fraksi pelarut n-heksana juga diperoleh tiga metabolit sekunder yakni flavonoid, tanin,  dan saponin. Hasil analisis GC-MS ekstrak umbi bawang putih memiliki  25 puncak pada fraksi n-heksana, 25 puncak fraksi etil asetat, dan 20 puncak pada fraksi etanol. Ekstrak n-heksana bawang putih tidak berpotensi sebagai antibakteri dalam menghambat pertumbuhan E. coli dan S. aureus, sedangkan ekstrak etil asetat dan etanol bawang putih berpotensi sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan E. coli secara in vitro. Ekstrak bawang putih hasil maserasi bertingkat dengan pelarut etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus, sedangkan ekstrak n-heksana dan etanol bawang putih tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus.  Hasil penelitian Tahap IV menunjukkan gambaran histopatologis yang terlihat pada endometrium tikus yang diinfeksikan bakteri E. coli dan S. aureus adalah terjadinya perubahan pada struktur lumen, nekrosis, proliferasi sel epitel, dan ditemukannya sel-sel radang serta fibroblast. Induksi endometritis dengan     x    menggunakan bakteri E. coli dan S. aureus menyebabkan terjadinya perubahan histopatologis pada endometrium tikus putih yang ditandai dengan penyempitan lumen endometrium, peningkatan sel-sel nekrosis, dan penurunan proliferasi pada sel epitel. Jenis bakteri yang digunakan tidak memengaruhi tingkat nekrosis dan proliferasi, namun peningkatan dosis infeksi cenderung meningkatkan nekrosis dan menurunkan proliferasi. Tingkat nekrosis tertinggi terdapat pada uterus tikus yang diinfeksikan dengan E. coli 1,5 x 10    8  CFU/mL. Ekspresi reseptor progesteron mengalami penurunan pada tikus putih model endometritis yang diinjeksikan           S. aureus 1,5 x10 8  CFU/mL dan bakteri campuran S. aureus 1,5 x 10 CFU/mL dengan E. coli 1,5 x 10 8  CFU/mL. Induksi endometritis dengan menggunakan bakteri E. coli, S. aureus dan kombinasi kedua bakteri menyebabkan terjadinya peningkatan kadar interleukin-6 (IL-6) pada darah tikus putih sesuai dengan peningkatan konsentrasi yang diberikan.  Pada Tahap V menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun sirih merah, daun kelor, dan ekstrak bawang putih pada saat sebelum dan sesudah perlakuan cenderung menurunkan skor WST meskipun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P&gt;0,05). Persentase penurunan skor WST pada C1, C2, dan C3 masing-masing adalah 60,1; 67,0; dan 58,8%.  Penurunan skor WST setelah perlakuan diikuti dengan penurunan total koloni bakteri (P&gt;0,05). Persentase penurunan total koloni bakteri pada C1, C2, dan C3 masing-masing adalah 32,5; 54,1; dan 70,6%.  Di antara ketiga jenis tanaman yang digunakan pada penelitian ini, ekstrak bawang putih menunjukkan kemampuan terendah dalam meningkatkan persentase kebuntingan pada sapi aceh yang mengalami endometritis.   &#13;
Kata kunci: antibakteri, endometritis, fitoterapi, sapi aceh</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>127067</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-07-29 16:19:54</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-07-29 16:23:56</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>