<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="126828">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH PH EKSTRAKSI DAN TEMPERATUR PENGENDAPAN TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU ISOLAT PROTEINRNKEDELAI (GLYCINE MAX L. MERRIL)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Nurmasyithah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2005</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Isolat  protein  kedelai  merupakan  salali  satu  produk  hasil  olahan  kedelai. Pembuatan  isolat  protein  kedelai  meliputi  proses  ekstraksi  atau  pelarutan  protein dengan   alkali   encer   (NaoH   2N)   sehingga   dihasilkan   filtrat   yang   selanjutnya dilakukan  pengendapan  menggunakan  asam  (HCl  2N).  Endapan  kemudian  dicuci dengan  menggunakan  aquades  dan  dikeringkan  dengan  freeze  dryer,   sehingga dihasilkan   isolat   protein   kedelai.    Penelitian   ini   bertujuan   untuk   mempelajari pembuatan  isolat  protein  kedelai  (Glycine  max  L.  Merril)  dan  untuk   mengetahui pengaruh pH  ekstraksi  dan  temperatur pengendapan terhadap rendemen  dan mutu (fisik, kimia, dan  fungsional) isolat protein kedelai terbaik.&#13;
          Penelitian  ini  menggunakan kedelai varietas willis yang diperoleh dari balai benih   NAD.   Penelitian   ini   dilakukan   dengan   menggunakan   Rancangan   Acak Kelompok (RAK) faktorial 3x3 yang terdiri atas 2 (dun) falctor. Faktor pertama yaitu pH  ekstraksi  (P)  yang terdiri  atas  3  (tiga)  taraf,  yaitu  Pl=  7,  P2=  7,5  dan  P3=  8. Faktor kedua yaitu temperatur pengendapan isolat menggunakan Hcl 2N (T), yang  terdiri atas 3  (tiga) taraf yaifu T1= temperatur ruang (28°C), T2= temperatur 45°C, dan   T3=  temperatur  60°C.   Dengan  demikian  terdapat   9  (sembilan)   kombinasi perlakuan  dengan  3  (tiga)  ulangan,  sehingga terdapat  27  (dua puluh tujuh)  satuan percobaan dengan ulangan sebagai kelompok.&#13;
          Data yang diperoleh dianalisis menggunakan  analysis  of variance  (Anova), dan dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) untuk membedakan pengaruh antar  perlakuan.  Analisis  kimia  meliputi  analisis  kadar  air,  kadar  abu,  dan  kadar protein, selain itu juga ditentukan rendemen, water holding capacity (WHC), Nitrogen solubility index (NSI) ,  aktivitas  dan  stabilitas  emulsi,  serta  kapasitas  dan  stabilitas buih.&#13;
          Berdasarkan   penelitian,   diperoleh   hasil   bahwa   pH   ekstraksi,   temperatur pengendapan  dan  interaksi   antara  pH  ekstraksi  dengan  temperatur  pengendapan berpengaruh  terhadap  kadar  air,  kadar  protein,  WHC,  NSI,   aktivitas  dan  stabilitas emulsi,  serta  kapasitas  dan  stabilitas  buih.  Temperatur  pengendapan  berpengaruh tidak  nyata (P&gt;0,05) terhadap kadar abu dan rendemen tetapi keduanya dipengaruhi oleh  pH  ekstraksi.   Sedangkan  interaksi    antara  pH  ekstraksi   dengan  temperatur pengendapan   berpengaruh   tidak   nyata   (P&gt;0,05)   terhadap   kadar   abu,    tetapi berpengaruh nyata terhadap rendemen.&#13;
          Pada umumnya pH ekstraksi 7,5 lebih baik dari pada pH 7 dan 8. Pada pH 7 kadar protein yang dihasilkan cenderung masih rendah dan akan meningkat pada pH 7,5,  peningkatan pH di  atas  7,5  cenderung akan  menurunkan kadar protein.  Kadar protein juga akan meningkat dengan meningkatnya temperatur pengendapan sampai 45°C,  dan  menurun  pada temperatLir  yang  lebih  tinggi  (60°C),  berapapun pH  yang digunakan  (7,  7,5,  atau  8).  Semakin  tinggi  kadar  protein  yang  dihasilkan,  maka semakin   baik   mutu   (fisik,   kimia,   dan   fungsional)   isolat   protein   kedelal   yang dihasilkan.&#13;
         Isolat  protein  kedelai  terbaik  pada penelitian  ini  adalah  pada  perlakuan  pH ekstraksi   7,5   dengan  temperatur  pengendapan   45°C   dengan   karakteristik   kadar protein 92,17%, kadar air 4,53%, kadar abu  I,24%, rendemen 34,27%, WHC  169%, NSI  71,94%,  aktivitas  dan  stabilitas  emulsi   3,63%   dan   32,67%,  kapasitas  dan stabilitas buih 240,33% dan 59,78%.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>126828</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-07-26 09:47:50</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-07-26 09:47:50</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>