PERUBAHAN LAHAN PERTANIAN AKIBAT TRANSFORMASI SPASIAL DI KAWASAN PERKOTAAN TAKENGON | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PERUBAHAN LAHAN PERTANIAN AKIBAT TRANSFORMASI SPASIAL DI KAWASAN PERKOTAAN TAKENGON


Pengarang

Manzila Ahma - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Zainuddin - 197306042008011013 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2004110010044

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Perencanaan Wilayah dan Kota (S1) / PDDIKTI : 35201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2024

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Konversi lahan pertanian merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari seiring perkembangan area perkotaan, seperti Kawasan Perkotaan Takengon (KPT) yang terletak di dataran tinggi gayo, mencakup Kecamatan Lut Tawar, Kecamatan Bebesen, dan Kecamatan Kebayakan. Pertumbuhan kota memicu terjadinya proses alih fungsi lahan dari pertanian ke non pertanian di area KPT terutama di Kecamatan Bebesen. Adanya peningkatan aktivitas perdagangan dan jasa atau komersial menimbulkan proses transformasi spasial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan pertanian di Kecamatan Bebesen pada dua periode yaitu tahun 2001-2011 dan tahun 2011-2022, serta untuk mengetahui faktor-faktor penyebab yang paling mempengaruhi perubahan lahan pertanian di Kecamatan Bebesen. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui kuesioner dan wawancara dengan tokoh masyarakat yang telah lama tinggal di Kecamatan Bebesen. Teknik analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif berdasarkan dua analisis utama yaitu analisis spasial dengan metode Maximum Likelihood Classification (MLC) dan analisis skala likert untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan lahan pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi pengurangan luas lahan pertanian pada tahun 2001-2011 sebesar 318,46 Ha atau 26,05% dan pada tahun 2011-2022 sebesar 220,2 Ha atau 24,35%. Dengan demikian jumlah total luas lahan pertanian yang mengalami alih fungsi lahan dari tahun 2001-2022 sebesar 538,66 Ha atau berkurang sebanyak 44%. Tiga faktor yang paling mempengaruhi konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian yaitu kebutuhan irigasi, kebutuhan lahan dan pendapatan. Faktor kebutuhan irigasi disebabkan oleh tidak tercukupinya kebutuhan air dari jaringan irigasi akibat beralihnya fungsi mata air. Masyarakat lebih memprioritaskan penggunaan mata air untuk permukiman yang terus berkembang dibandingkan untuk lahan pertanian. Hal ini menyebabkan berkurangnya suplai air untuk lahan pertanian dan mengurangi produktivitas sehingga pendapatan petani berkurang. Sumber mata air dialihfungsikan menjadi kebutuhan permukiman dikarenakan kebutuhan pertumbuhan penduduk lebih besar daripada pertanian. Hal ini juga mendorong petani untuk beralih mata pencaharian menjadi petani kopi yang merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Aceh Tengah dan lebih menguntungkan.
Kata Kunci: Kawasan Perkotaan, Lahan pertanian, Transformasi spasial.

Agricultural land conversion is an unavoidable phenomenon along with the development of urban areas, such as the Takengon Urban Area (KPT) which is located in the gayo highlands, covering Lut Tawar Sub-district, Bebesen Sub-district, and Kebayakan Sub-district. Urban growth triggers the process of land conversion from agriculture to non-agriculture in the KPT area, especially in Bebesen Sub-district. The increase in trade and services or commercial activities has led to a spatial transformation process. This study aims to identify changes in agricultural land use in Bebesen Subdistrict in two periods, namely 2001-2011 and 2011-2022, and to determine the causal factors that most influence agricultural land change in Bebesen Subdistrict. Data collection techniques used through questionnaires and interviews with community leaders who have long lived in Bebesen District. The data analysis technique was carried out with a quantitative descriptive approach based on two main analyses, namely spatial analysis with the Maximum Likelihood Classification (MLC) method and Likert scale analysis to determine the factors that influence agricultural land change. The results showed that there was a reduction in the area of agricultural land in 2001-2011 by 318.46 Ha or 26.05% and in 2011-2022 by 220.2 Ha or 24.35%. Thus, the total area of agricultural land that experienced land conversion from 2001-2022 amounted to 538.66 Ha or reduced by 44%. The three factors that most influence the conversion of agricultural land to non-agricultural land are irrigation needs, land needs and income. Irrigation needs are caused by insufficient water from the irrigation network due to the conversion of springs. The community prioritizes the use of springs for growing settlements rather than for agricultural land. This has led to reduced water supply for agricultural land and reduced productivity, resulting in reduced income for farmers. Springs are converted to residential use because the needs of population growth are greater than agriculture. This also encourages farmers to change their livelihoods to become coffee farmers, which is a leading commodity in Central Aceh District and more profitable. Keywords: Agricultural land, Spatial transformation, Urban Area

Citation



    SERVICES DESK