PEMETAAN INDEKS KERAWANAN TANAH LONGSOR DI KECAMATAN WIH PESAM KABUPATEN BENER MERIAH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PEMETAAN INDEKS KERAWANAN TANAH LONGSOR DI KECAMATAN WIH PESAM KABUPATEN BENER MERIAH


Pengarang

RAHMAD - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Hairul Basri - 196702101991021001 - Dosen Pembimbing I
Sugianto - 196502231992031003 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1805108010047

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Ilmu Tanah (S1) / PDDIKTI : 54294

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2024

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Tanah longsor adalah peristiwa alam dimana satu massa tergelincir terhadap massa yang
lain, disebabkan oleh tidak kuatnya gaya lekat (resisting force) antar lapisan tanah dalam
menahan perubahan massa tersebut. Kerugian yang dialami manusia akibat dari terjadinya tanah
longsor mencakup material dan korban jiwa, bencana tanah longsor juga dapat merusak
prasarana fisik seperti jembatan, terganggunya laju lalu lintas, dan terjadinya pendangkalan. Di
Provinsi Aceh, bencana tanah longsor sering terjadi di Kabupaten Bener Meriah, salah satunya di
Kecamatan Wih Pesam. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah peristiwa
tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Bener Meriah disebabkan oleh hujan berintensitas
tinggi.
Kegiatan penanggulangan bencana alam yang selama ini dilakukan masih bersifat pada
tindakan darurat, yaitu tindakan yang sifatnya sementara pada saat dan sesudah terjadinya suatu
bencana. Sementara tindakan preventif yang dilakukan pada saat sebelum terjadinya bencana
masih sangat jarang dilakukan. Padahal tindakan ini sangat penting dilakukan guna mencegah
terjadinya korban jiwa dan kerugian material pada saat terjadinya suatu bencana. Oleh sebab itu
pentingnya dilakukan pemetaan tingkat kerawanan tanah longsor untuk memberikan informasi
bagi masyarakat maupun pihak berwenang untuk memungkinkan pengembangan strategi yang
lebih efektif dalam mengurangi dampak bencana dan mengetahui daerah-daerah yang rentan
terhadap longsor serta membantu dalam menentukan prioritas tindakan mitigasi.
Pemetaan dilakukan dengan menganalisis beberapa faktor penyebab terjadinya bencana
tanah longsor seperti faktor kemiringan lereng, curah hujan, jenis tanah serta penggunaan lahan.
Analisis data spasial penentuan tingkat kerawanan tanah longsor menggunakan tools Weighted
overlay. Pada tahap ini weighted overlay digunakan untuk memetakan indeks kerawanan tanah
longsor dengan melakukan tumpang susun (overlay) peta-peta berdasarkan bobot dan skor setiap
kelas parameter penyebab longsor. Pada penelitian ini parameter yang digunakan adalah peta
lereng, peta jenis tanah, peta curah hujan dan peta penggunaan lahan.
Kecamatan Wih Pesam memiliki luas 5.931,14 Ha. Berdasarkan hasil analisis Kecamatan
memiliki 3 kelas kerawanan longsor yaitu agak rawan, rawan, dan sangat rawan. Kelas agak
rawan memiliki luasan 635,09 Ha dengan persentase 10,71 %, Kelas rawan memiliki luasan
3.726,86 Ha dengan persentase 62,84 % sedangkan kelas sangat rawan memiliki luasan yaitu
1.569,18 Ha dengan persentase 26,46 %. Sebagian besar luas Kecamatan Wih Pesam termasuk
dalam kelas kerawanan longsor rawan, sedangkan luasan yang agak rawan merupakan bagian
yang lebih kecil. Desa-desa yang tergolong sangat rawan antara lain : Bener Ayu, Bener Mulie,
Blang Benara, Blang Kucak, Bukit Pepanyi, Burni Telong, Cinta Damai, Gegerung, Jamur
Ujung, Jamur Uluh, Lut Kucak, Mekar Jadi Ayu, Pante Raya, Simpang Antara, Simpang Balek,
Simpang Teritit, Suka Jadi, Suka Makmur, Suka Ramai Atas, Syura Jadi, Wih Pesam, Suka
Makmur Timur, Suka Ramai Bawah, dan Merie I. Oleh karena itu pentingnya pemantauan dan
tindakan pencegahan di daerah yang rawan longsor untuk mengurangi risiko bencana, penting
dilakukan secara berkala

Landslides are natural events where one mass slips against another due to insufficient shear strength between layers of soil to withstand the mass movement. Human losses from landslides include both material damage and casualties. Landslides can also disrupt physical infrastructure such as bridges, affect traffic flow, and cause sedimentation. In Aceh Province, landslides frequently occur in Bener Meriah Regency, including in Wih Pesam District. According to the Regional Disaster Management Agency, these landslides are primarily triggered by heavy rainfall. Current disaster management activities mostly focus on emergency response, providing temporary relief during and after disasters. Preventive measures before disasters occur are rare but crucial to prevent casualties and material losses. Therefore, it is essential to map landslide vulnerability levels to inform the public and authorities, enabling the development of more effective strategies to mitigate disaster impacts and identify vulnerable areas for prioritizing mitigation efforts. Mapping is conducted by analyzing several factors contributing to landslides, such as slope steepness, rainfall intensity, soil type, and land use. Spatial data analysis to determine landslide vulnerability levels uses the Weighted Overlay tool. This tool overlays maps based on the weight and score of each parameter classifying landslide triggers. In this study, parameters include slope map, soil type map, rainfall map, and land use map. Wih Pesam District covers an area of 5,931.14 hectares. Based on the analysis, the district is classified into three landslide vulnerability classes: moderately vulnerable, vulnerable, and highly vulnerable. Moderately vulnerable areas cover 635.09 hectares (10.71%), vulnerable areas cover 3,726.86 hectares (62.84%), and highly vulnerable areas cover 1,569.18 hectares (26.46%). Most of Wih Pesam District is classified as vulnerable to landslides, with moderately vulnerable areas constituting a smaller portion. Villages classified as highly vulnerable include Bener Ayu, Bener Mulie, Blang Benara, Blang Kucak, Bukit Pepanyi, Burni Telong, Cinta Damai, Gegerung, Jamur Ujung, Jamur Uluh, Lut Kucak, Mekar Jadi Ayu, Pante Raya, Simpang Antara, Simpang Balek, Simpang Teritit, Suka Jadi, Suka Makmur, Suka Ramai Atas, Syura Jadi, Wih Pesam, Suka Makmur Timur, Suka Ramai Bawah, and Merie I. Therefore, regular monitoring and preventive measures in landslide-prone areas are crucial to reduce disaster risks.

Citation



    SERVICES DESK