<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="125575">
 <titleInfo>
  <title>POTENSI METABOLIT SEKUNDER ASAL BAKTERI ENDOFIT ISOLAT LOKAL BACILLUS THURINGIENSIS AK08 DAN ARTHROBACTER SP. AM 08 DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN SCLEROTIUM ROLFSII IN VITRO</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Raisya Safni</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian Proteksi Tanaman</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sclerotium rolfsii merupakan salah satu cendawan yang menjadi patogen utama penyebab penyakit busuk batang dan penyebarannya melibatkan tanah sebagai jalur penularan utama. Gejala awal ditandai dengan tanaman yang menguning dan layu, kemudian diikuti oleh munculnya akar tunggang yang lunak dan lembab. Dalam kasus infeksi yang parah, bisa mengakibatkan kematian seluruh tanaman. Umumnya, upaya pengendalian serangan cendawan S. rolfsii yaitu dengan penggunaan fungisida sintetik. Namun penggunaannya dapat memberikan dampak negatif seperti residu yang dapat mencemari lingkungan serta menimbulkan resistensi bagi organisme pengganggu tanaman (OPT). Oleh karena itu diperlukan alternatif pengendalian lain seperti penggunaan metabolit sekunder asal bakteri endofit B. thuringensis AK08 dan Arthrobacter sp. AM08. B. thuringensis AK08 dan Arthrobacter sp. AM08 dilaporkan dapat digunakan sebagai agens pengendali hayati dalam mengendalikan patogen penyebab penyakit pada tanaman, karena memiliki senyawa dan enzim yang bersifat antifungi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi metabolit sekunder asal bakteri endofit isolat lokal B. thuringiensis AK08 dan Arthrobacter sp. AM08 dalam menghambat pertumbuhan S. rolfsii secara in vitro.&#13;
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan empat perlakuan dan lima ulangan, setiap ulangan terdiri dari 2 unit sehingga diperoleh 40 unit percobaan. Potensi metabolit sekunder asal bakteri endofit isolat lokal B.  thuringiensis AK08 dan Arthrobacter sp. AM08 diuji terhadap cendawan patogen S. rolfsii menggunakan metode difusi cakram. Cendawan S. rolfsii yang telah disuspensi sebelumnya dengan pengenceran 10-2 diambil sebanyak 1 ml kemudian dicampur dengan media PDA dan NA, dituangkan ke cawan petri yang sama lalu digoyangkan hingga homogen dan dibiarkan media mengeras. Kertas cakram direndam dalam ekstrak metabolit sekunder bakteri endofit hingga menyerap. Kertas cakram ditempatkan pada media agar yang mengandung suspensi S. rolfsii dan diinkubasi selama 7 hari. Peubah yang diamati meliputi waktu pertumbuhan koloni cendawan patogen S. rolfsii dan luas zona bening yang terbentuk.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pertumbuhan koloni cendawan patogen S. rolfsii terlama ditunjukkan pada perlakuan metabolit sekunder Arthrobacter sp. AM08 yaitu pada 4,2 HSI, diikuti oleh perlakuan metabolit sekunder B. thuringiensis AK08 dan metabolit sekunder gabungan (B. thuringiensis AK08 ¬+ Arthrobacter sp. AM08) 3,5 HSI, serta perlakuan S. rolfsii (tanpa metabolit sekunder) 3,3 HSI. Selanjutnya, luas zona bening paling luas ditunjukkan pada perlakuan metabolit sekunder Arthrobacter sp. AM08 sebesar 17,60 mm. Diikuti oleh perlakuan metabolit sekunder gabungan (B. thuringiensis AK08 ¬+ Arthrobacter sp. AM08)  sebesar 11,15 mm, perlakuan metabolit sekunder B. thuringiensis AK08 sebesar 3,60 mm, serta perlakuan S. rolfsii (tanpa metabolit sekunder) tidak membentuk zona bening sama sekali. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perlakuan metabolit sekunder asal bakteri endofit Arthrobacter sp. AM08 memiliki potensi yang mampu menghambat pertumbuhan S. rolfsii secara in vitro.  &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>125575</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-07-18 12:24:57</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-07-18 15:55:30</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>