INTERAKSI GROWTH POLE DAN URBAN SPRAWL DILIHAT DARI SEBELUM DAN SESUDAH TERJADINYA TSUNAMI DI KOTA BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

INTERAKSI GROWTH POLE DAN URBAN SPRAWL DILIHAT DARI SEBELUM DAN SESUDAH TERJADINYA TSUNAMI DI KOTA BANDA ACEH


Pengarang

T. Dany Dhaifullah - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Noer Fadhly - 197507312002121002 - Dosen Pembimbing I
Alfa Taras Bulba - 198208092008121002 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2104201010014

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S2) / PDDIKTI : 22101

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2024

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Kota Banda Aceh setelah dilanda tsunami pada tahun 2004, mengakibatkan terjadi pergeseran pada pusat-pusat pertumbuhan (growth pole) dan pusat-pusat kegiatan dan pelayanan kota di kota Banda Aceh seperti kawasan kegiatan perdagangan dan jasa, fasilitas umum dan fasilitas lainnya yang membuat kegiatan berkembang ke segala penjuru kota dengan intensitas meningkat. Kebutuhan ruang yang meningkat di perkotaan mendorong terjadinya perkembangan daerah pinggiran kota dan daerah secara acak (urban sprawl). Hal ini dilihat dari data BPS Kota Banda Aceh Tahun 2024 jumlah penduduk yang meningkat sebesar 25,61% pasca tsunami yang berdampak pada kepadatan tiap kecamatan di Kota Banda Aceh. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh growth pole dilihat dari sebelum dan sesudah terjadinya tsunami dengan model analisis gravitasi dan menganalisis pengaruh urban sprawl terhadap struktur ruang dan pola wilayah ditinjau dari kondisi fisik sebelum dan sesudah terjadinya tsunami dengan penginderaan jauh GIS. Metode yang digunakan adalah metode geografi kuantitatif. Hasil yang diperoleh model analisis gravitasi menghasilkan daerah interaksi dengan nilai interaksi terkuat sebagai pusat pertumbuhan (growth pole) tahun 2004 (sebelum tsunami), 2005 (sesudah tsunami) dan 2023 (saat ini) adalah interaksi antara Kecamatan Kuta Alam terhadap Kecamatan Baiturrahman dengan nilai masing-masing sebesar 283.084.961,591 interaksi, 161.382.469,959 interaksi dan 190.617.812,346 interaksi. Hasil identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan urban sprawl seperti jarak ke CBD, PDRB Kota Banda Aceh, perubahan alih fungsi lahan, permintaan hunian dan ketersediaan sarana prasarana infrastruktur di kecamatan Kota Banda Aceh dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh urban sprawl terhadap struktur ruang dan pola wilayah ditinjau dari kondisi fisik sebelum dan sesudah terjadinya tsunami di Kota Banda Aceh.

The city of Banda Aceh after being hit by the tsunami in 2004, resulted in a shift in the centers of growth (growth pole) and centers of activity and urban services in the city of Banda Aceh such as trade and service activities, public facilities and other facilities that make activities develop to all corners of the city with increased intensity. Increased space requirements in urban areas encourage the development of suburban areas and random areas (urban sprawl). This can be seen from BPS data for Banda Aceh City in 2024, the population increased by 25.61% after the tsunami which had an impact on the density of each sub-district in Banda Aceh City.. The purpose of this research is to identify the influence of growth poles seen from before and after the tsunami with a gravity analysis model and analyze the influence of urban sprawl on spatial structure and regional patterns in terms of physical conditions before and after the tsunami with GIS remote sensing. The method used is quantitative geography method. The results obtained by the gravity analysis model produced interaction areas with the strongest interaction value as a growth center (growth pole) in 2004 (before the tsunami), 2005 (after the tsunami) and 2023 (currently) is the interaction between Kuta Alam sub-district and Baiturrahman sub-district with a value of 283,084,961.591 interactions, 161,382,469.959 interactions and 190,617,812.346 interactions respectively. The results of the identification of factors that influence the development of urban sprawl such as distance to the CBD, GRDP of Banda Aceh City, changes in land use change, residential demand and availability of infrastructure facilities in the sub-districts of Banda Aceh City can be concluded that there is an influence of urban sprawl on spatial structure and regional patterns in terms of physical conditions before and after the tsunami in Banda Aceh City.

Citation



    SERVICES DESK