EKSISTENSI LEMBAGA WALI NANGGROE DALAM MENJAGA PERDAMAIAN ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

EKSISTENSI LEMBAGA WALI NANGGROE DALAM MENJAGA PERDAMAIAN ACEH


Pengarang

Rahmat Razi Aulia - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Wais Alqarni - 199204262019031019 - Dosen Pembimbing I
Nofriadi - 198911032017011101 - Dosen Pembimbing II
Reza Fahlevi - 198908282021021101 - Penguji
Nurul Kamaly - 199503262022032011 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

1910104010054

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Pemerintahan (S1) / PDDIKTI : 65201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik., 2024

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Kehadiran Lembaga Wali Nanggroe menjadi daya tarik tersendiri di Aceh. Lembaga Wali Nanggroe lahir karena adanya perjanjian damai pihak Gerakan Aceh Merdeka dengan Indonesia pada 2005 di Finlandia. Lembaga sebagai amanah perdamaian itu merupakan sebuah wadah kepemimpinan dalam mempersatukan masyarakat Aceh. Perubahan sosial terjadi begitu cepat dan mengubah perang gerilya di hutan belantara menjadi kontestasi politik sesama tokoh dan elite politik di Aceh. Masyarakat beberapa kali mengkritisi tentang kehadiran Lembaga Wali Nanggroe karena kehadirannya belum dapat mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Aceh sehingga kehadiran Lembaga Wali Nanggroe dipertanyakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui eksistensi Lembaga Wali Nanggroe dan hambatannya dalam menjaga perdamaian Aceh. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pengumpulan data menggunakan metode wawancara, dokumentasi, dan observasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksistensi dan institusional. Hasil penelitian adalah eksistensi sebuah lembaga dapat dilihat dari kewenangan yang diberikan kepada lembaga tersebut oleh negara melalui aturan hukumnya. Lembaga Wali Nanggroe sudah melaksanakan tugas dan fungsinya dalam menjaga perdamian Aceh sesuai dengan eksistensi dan institusional serta tidak lagi berpatokan pada Qanun lama Lembaga Wali Nanggroe Nomor 10 Tahun 2019, tetapi Qanun Nomor 2 Tahun 2023 tentang Wali Nanggroe. Ditemukannya lembaga-lembaga baru seperti; Tuha Nanggroe, Majelis Syura, Dewan Pertimbangan serta Wazirul Adat. Lembaga Wali Nanggroe dinilai belum sepenuhnya optimal dalam menjalankan tugas dan fungsinya sesuai perintah Qanun. Keterbatasan instrumennya pada kelengkapan kelembagaan Wali Nanggroe yang belum sepenuhnya terbentuk dan kurangnya dukungan pemangku kepentingan serta dipengaruhi faktor politisasi di dalam elemen internal maupun eksternal kelembagaan. Hambatan tersebut mempengaruhi fungsi-fungsi Wali Nanggroe yang tidak bisa berjalan secara maksimal. Rekomendasinya ialah Wali Nanggroe terus menjaga perdamaian yang berada diatas segala komponen rakyat Aceh. Diharapkan pemerintah Aceh dan masyarakat senantiasa memberikan dukungan agar cita-cita yang tertuang dalam Qanun Lembaga Wali Nanggroe dapat diimplementasi dengan baik sesuai butir-butir MoU Helsinki dan UUPA.
Kata kunci: Eksistensi, Lembaga, Wali Nanggroe, Perdamaian Aceh

The presence of the Wali Nanggroe Institution holds a special attraction in Aceh. The institution emerged as a result of the peace agreement between the Free Aceh Movement and Indonesia in 2005 in Finland. Serving as a mandate of peace, the institution provides a leadership platform for uniting Acehnese society. Social changes have occurred rapidly, transforming guerrilla warfare in the wilderness into political contestation among leaders and political elites in Aceh. The community has criticized the presence of the Wali Nanggroe Institution several times because its presence has not yet translated into prosperity for the Acehnese people, thus raising questions about its existence. This research aims to understand the existence of the Wali Nanggroe Institution and the obstacles it faces in maintaining peace in Aceh. This research is qualitative, utilizing data collection methods such as interviews, documentation, and observation. The theories used in this research are existence and institutionalism. The results of the research show that the existence of an institution can be seen from the authority granted to it by the state through its legal regulations. The Wali Nanggroe Institution has fulfilled its duties and functions in maintaining peace in Aceh by its existence and institutionalism, no longer adhering to the old Qanun of the Wali Nanggroe Institution Number 10 of 2019, but rather to Qanun Number 2 of 2023 concerning the Wali Nanggroe. New institutions have been found, such as the Tuha Nanggroe, Majelis Syura, Dewan Pertimbangan, and Wazirul Adat. The Wali Nanggroe Institution is considered not yet fully optimal in carrying out its duties and functions according to the provisions of the Qanun. The limitations of its instruments lie in the incomplete institutional framework of the Wali Nanggroe and the lack of support from stakeholders, as well as being influenced by politicization factors both internally and externally within the institution. These obstacles affect the functions of the Wali Nanggroe, which cannot operate maximally. The recommendation is for the Wali Nanggroe to continue maintaining peace above all components of Acehnese society. It is hoped that the Aceh government and the community will continue to provide support so that the aspirations outlined in the Qanun of the Wali Nanggroe Institution can be implemented effectively by the provisions of the Helsinki MoU and the UUPA. Keywords: Existence, Institution, Wali Nanggroe, Aceh Peace

Citation



    SERVICES DESK