<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="123396">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS KERUNTUHAN STRUKTUR MASJID TIPIKAL DI ACEH DENGAN PEMBEBANAN MULTI-HAZARD (GEMPA DAN TSUNAMI)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Humaira</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik Sipil</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Intensitas penggunaan masjid di Aceh cukup tinggi, tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun juga sebagai pusat diskusi dan penyelenggaraan kegiatan oleh masyarakat. Penelitian Syamsidik, dkk., (2019) terkait kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana, menunjukkan bahwa 29% responden memilih masjid sebagai tempat untuk berlindung. Hal ini menambahkan fungsional bangunan masjid yaitu sebagai tempat perlindungan. Oleh karena itu, masjid memerlukan perhatian khusus terhadap kondisi strukturalnya. Penelitian ini memodelkan masjid tipikal di Aceh yang dianalisis terhadap beban gempa dan kemudian diikuti oleh beban tsunami. Beban gempa dilimpahkan dari beberapa rekaman gempa, yaitu rekaman Gempa Landers 1992, Coalingan 1983 dan Tohoku 2011. Data untuk pembebanan tsunami digunakan data kecepatan aliran dan ketinggian genangan Tsunami Samudra Hindia 2004. Beban gempa dianalisis dengan metode Time History (TH), sedangkan beban tsunami dianalisis dengan metode Constant Height Pushover (CHPO). Hasil dari analisis adalah respons struktur masjid tipikal di Aceh secara global dan lokal. Secara global yaitu respons seluruh sendi plastis yang berpedoman pada ASCE 41-17 dan deformasi bangunan. Respons sendi plastis secara visual dapat menunjukkan probabilitas keruntuhan bangunan. Sementara itu, secara lokal adalah analisis inelastik sendi plastis pada titik monitor tertentu. Hasil analisis menggunakan rekaman Gempa Landers 1983 yang kemudian dilanjutkan oleh beban tsunami menunjukkan terjadi keruntuhan bangunan pada saat ketinggian genangan tsunami mencapai 7 meter. Demikian juga dengan penggunaan rekaman Gempa Coalinga 1983 yang dilanjutkan oleh beban tsunami menunjukkan terjadi keruntuhan bangunan saat ketinggian genangan tsunami mencapai 7 meter. Namun saat dianalisis dengan rekaman Gempa Tohoku 2011 menunjukkan terjadi keruntuhan bangunan setelah pembebanan seismik. &#13;
&#13;
Kata kunci: Gempa, Tsunami, Time History Analysis, Constant Height Pushover Analysis, Respons Struktur, Keruntuhan, Kerentanan.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>123396</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-06-07 07:34:23</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-06-07 09:57:09</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>