ESTIMASI KERUSAKAN BANGUNAN AKIBAT BENCANA TSUNAMI DI KOTA AMBON BERDASARKAN METODE PROBABILISTIK | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

ESTIMASI KERUSAKAN BANGUNAN AKIBAT BENCANA TSUNAMI DI KOTA AMBON BERDASARKAN METODE PROBABILISTIK


Pengarang

Teuku Andri Renaldi - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Syamsidik - 197502251999031001 - Dosen Pembimbing I
Eldina Fatimah - 196408281989032002 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2204201010043

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S2) / PDDIKTI : 22101

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Program Studi Magister Teknik Sipil., 2024

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Tsunami merupakan ancaman alam yang menyebabkan kerusakan bangunan dan memakan korban jiwa skala besar. Indonesia Timur terutama Kota Ambon sangat rentan terhadap bahaya gempa dan tsunami. Potensi ini disebabkan karena letaknya berada di zona subduksi di pertemuan 3 lempeng yaitu lempeng Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia. Minimnya kajian penelitian tentang gempa dan tsunami menyebabkan kurangnya informasi tentang peta bahaya bencana gempa dan tsunami di Indonesia Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan sebaran bangunan dengan klasifikasi Hazard United States (HAZUS) dan menganalisis potensi kerapuhan bangunan dengan probabilistik kejadian tsunami periode ulang 250, 500 dan 1000 tahun di Kota Ambon. Dalam metode penelitian ini akan digunakan model numerik Cornell Multi-Grid Coupled Tsunami (COMCOT) untuk memodelkan skenario perambatan gelombang tsunami dari pusat gempa sampai ke daratan dengan data fault model Laut Banda Selatan. Metode Probabilistic Tsunami Hazard Analysis (PTHA) digunakan untuk mendapatkan nilai ketinggian genangan tsunami yang terjadi pada periode ulang 250, 500 dan 1000 tahun. Fragility Function merupakan metode yang digunakan untuk mendapatkan potensi kerusakan bangunan akibat genangan tsunami pada periode ulang 250, 500 dan 1000 tahun. Dari hasil tsunami probabilistik didapatkan tinggi maksimum genangan sebesar 3,6 m pada periode ulang 250 tahun yang menyebabkan 621 unit bangunan mengalami kerusakan. Pada periode ulang 500 tahun tinggi maksimum genangan sebesar 5,7 m pada yang menyebabkan 1.587 unit bangunan mengalami kerusakan. Selanjutnya, pada periode ulang 1000 tahun tinggi maksimum sebesar 8,7 m yang menyebabkan 3.638 unit bangunan mengalami kerusakan.

A tsunami poses a natural threat that can significantly damage infrastructure and cause the loss of lives on a large scale. Eastern Indonesia, particularly Ambon, is highly vulnerable to the dangers of earthquakes and tsunamis. This vulnerability arises due to its location within a subduction zone where three tectonic plates - Eurasian, Pacific, and Indo-Australian - converge. More research studies on earthquakes and tsunamis have led to a lack of information regarding the hazard maps of earthquakes and tsunamis in Eastern Indonesia. This study aims to map the distribution of buildings using the Hazard United States (HAZUS) classification and to analyze the potential vulnerability of buildings to probabilistic tsunami events with return periods of 250, 500, and 1000 years in the city of Ambon. In this research method, the Cornell Multi-Grid Coupled Tsunami (COMCOT) numerical model will be utilized to simulate tsunami wave propagation scenarios from the earthquake epicentre to the land using fault model data from the South Banda Sea. The Probabilistic Tsunami Hazard Analysis (PTHA) method will be employed to obtain tsunami inundation height values at return periods of 250, 500, and 1000 years. The Fragility Function will determine the potential vulnerability of buildings due to tsunami inundation at return periods of 250, 500, and 1000 years. From the probabilistic tsunami results, a maximum inundation height of 3.6 meters was obtained for a return period of 250 years, resulting in damage to 621 building units. For a return period of 500 years, a maximum inundation height of 5.7 meters was observed, leading to damage to 1.587 building units. Furthermore, for a return period of 1000 years, a maximum height of 8.7 meters was recorded, causing damage to 3.638 building units.

Citation



    SERVICES DESK