<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="122809">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH WAKTU FERMENTASI  DAN PERLAKUAN PENCUCIAN TERHADAP KARAKTERISTIK BIJI DAN LEMAK KAKAO</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Fitri Muliati</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2009</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tanaman kakao  berkembang mulai berkembang di  wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada tahun 1980, yang tersebar di  daerah Aceh Utara, Pidie, Bireun, Aceh Timur dan  Aceh barat (Dinas Perkebunan NAD, 2006).  Selama ini, kebanyakanpetani kakao di Aceh tidak melakukan fermentasi dan pencucian pada biji kakao sehingga mutu biji  kakao yang dihasilkan  rendah.mutu biji  kakao dipengaruhi oleh banyak  faktor, namun faktor yang paling menentukan adalah  proses fermentasi. Menurut Affandi (2008), fermentasi  biji  kakao akan meningkatkan  cita  rasa, warna dan aroma, karena  selama fermentasi  terjadi  perubahan fisika, kimia dan biologi didalam biji kakao. &#13;
          Oleh  karena itu, perlu dilakukan penelitian terhadap kecukupan  fermentasi dengan melakukan fermentasi selama 2 sampai 5 hari.  Selain waktu fermentasi, mutu biji  kakao juga dipengaruhi oleh penampakan serta ketahanan biji selama penyimpanan. Salah satu faktor yang mempengaruhi keadaan diatas adalah pencucian biji. Pencucian biji  akan memberikan pengaruh terhadap  sifat fisik biji,  lemak  dan bubuk yang dihasilkan (SIPUK, 2008).&#13;
          Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak  kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri atas  dua (2) faktor. Faktor pertama adalah waktu fermentasi (0,2 ,3, 4 dan 5 hari). Faktor kedua adalah perlakuan pencucian  (Pencucian dan tanpa pencucian). Dengan demikian  terdapat 10 (sepuluh) kombinasi perlakuan dengan  3 (tiga) kali  ulangan, sehingga diperoleh 30 (tiga puluh) satuan percobaan. &#13;
          Parameter yang diamati selama proses fermeotasi  meliputi suhu dan  pH. Untuk bahan baku  (biji  kakao kering) parameter yang diamati yaitu kadar air, kadar lemak, pH biji dan uji pembelahan biji (100 biji). Untuk lemak kakao parameter yang diamati yaitu kadar asam lemak  bebas,  titik leleh,  indeks  bias, dan  uji  organoleptik (Warna  dan Aroma),  sedangkan  untuk bubuk  kakao parameter  yang damati  yaitu uji organolepti k (warna dan arom a), kadar lemak  dan pH.  Untuk sam pel  dengan kondisi terbaik dilaku kan analisis bilangan  penyabunan, bilangan iod,  komposisi  asam  lemak dan solidfat content.&#13;
          Hasil  penelitian ini menunjukkan  bahwa selama  fermentasi  terjadi  kenaikan suhu (hari kedua dan ketiga)  dan penurunan suhu (pada hari keempat dan  kelima). Demikian juga  pada pH tumpukan biji  selama fermentasi  dimana penurunan pH menjadi asam terjadi pada  hari ketiga fermentasi dan pada hari keempat dan kelima pH kembali meningkat.&#13;
          Waktu fennentasi  (F) memberikan pengaruh nyata terhadap pH biji  kakao kering, uji pembelahan biji, asam lemak bebas, organoleptik warna (bubuk kakao) aroma (lemak dan bubuk kakao).  Hal ini dinyatakan dengan semakin lama  waktu fermentasi  maka  pH   biji   kakao kering, derajat fennentasi  (uji pembelahan biji), asam  lemak  bebas,  organoleptik   warna (bubuk kakao)  aroma (lemak dan bubuk kakao)  akan semakin meningkat. Tetapi waktu fennentasi tidak  berpengaruh nyata terhadap kadar air dan titik leleh awal. Perlakuan pencucian (P) berpengaruh nyata terhadap kadar air,  dimana kadar air biji kakao pencucian (PI) lebih rendah dari pada kadar air tanpa pencucian (P2).  lnterak.si  kedua  perlakuan (FP)memberikan pengaruh nyata  terhadap  nilai   indeks  bias,  titik  leleh  akhir,  organoleptik  warna  (lemak  kakao)dan pH bubuk kakao. &#13;
          Kondisi  lemak terbaik pada penelitian  ini dipilih berdasarkan hasil parameter analisis lemak yang sesuai dengan SNI 01-3749-1995 dan berdasarkan parameter uji pembelahan biji  sehingga diperoleh perlakuan F5P2, dimana semua hasil  analisis sesuai dengan standar mutu lemak kakao (SN1-01-3749-1995) kecuali untuk analisis titi  leleh  a.khir lemak  kakao.   Lemak pada kondisi  ini  memiliki kandungan asaam lemak  bebas 1,174%  (maksimal 1,75%),  nilai indeks  bias 1,459  (maksimal  1,459), titik leleh awal 32,4&quot;C (maksimal 34&quot;C) dan titik leleh akhir 36,4&quot;C (maksimal 35&quot;C). &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>SEEDS</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>FERMENTATION</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>CACAO - AGRICULTURE</topic>
 </subject>
 <classification>633.74</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>122809</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-05-08 15:43:57</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-05-08 15:52:53</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>