PENGARUH KONSENTRASI MOL (MIKROORGANISME LOKAL) DAN LAMA WAKTU PENGOMPOSAN TANDAN KOSONG (EMPTY BUNCH) KELAPA SAWIT TERHADAP MUTU KOMPOS | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PENGARUH KONSENTRASI MOL (MIKROORGANISME LOKAL) DAN LAMA WAKTU PENGOMPOSAN TANDAN KOSONG (EMPTY BUNCH) KELAPA SAWIT TERHADAP MUTU KOMPOS


Pengarang

Ridha Fadli - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

0505105010024

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Teknologi Hasil Pertanian (S1) / PDDIKTI : 41231

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2010

Bahasa

Indonesia

No Classification

631.875

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq) merupakan tanaman perkebunan yang tergolong famili palmae yang dapat menghasilkan minyak. Tanaman ini diyakini dari Afrika Barat dan didatangkan ke Indonesia pada tahun 1848, kelapa sawit mulai dibudidayakan secara komersial dalam bentuk perusahaan perkebunan pada tahun I 911. Limbah yang terdapat pada pabrik kelapa sawit adalah berupa limbah padat, limbah cair dan limbah gas. Limbah padat memiliki beberapa jenis, yaitu tandan kosong kelapa sawit dihasilkan dari tandan sawit yang sudah tidak memiliki buah. Sebagian tandan kosong dilakukan penghancuran dan pengepresan untuk mempercepatnya proses penguraian pada pupuk kompos. Serabut (Fiber) dan cangkang dihasilkan dari pengolahan tandan buah segar, yang fungsinya sebagai bahan bakar boiler. Sedangkan sludge adalah limbah yang dihasilkan dari stasiun klarifikasi, limbah ini berupa lumpur yang merupakan sisa buangan dari hasil pemumian minyak. Fungsi sludge ini dapat dijadikan kompos, dan dapat pula dijadikan makanan ternak.
Limbah kelapa sawit jumlahnya sangat melimpah. Pada sebuah pabrik kelapa sawit (PKS) berkapasitas 60 ton tandan / jam dapat menghasilkan limbah I00 ton/hari. Di Indonesia, terdapat 470 pabrik pengolahan kelapa sawit. Limbahnya mencapai 28,7 juta ton dalam bentuk cairan dan 15,2 juta ton limbah padat per tahun. Alternatif dari permasalahan ini adalah dengan pemanfaatan janjang kosong kelapa sawit yang dapat diolah menjadi kompos.
EM4 merupakan kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Penggunaan EM, dalam pembuatan bokasi memang sangat menguntungkan tetapi jika ditinjau dari segi biaya, penggunaan EM, membutuhkan biaya yang relatif mahal. Untuk mengatasi masalah tersebut, petani mencari alternatif lain dengan memanfaatkan limbah hasil pertanian untuk bahan pembuatan MOL (Mikroorganisme Lokal).
MOL adalah kumpulan mikroorganisme yang berperan dalam kesuburan tanah, sebagai pengganti EM, yang merupakan suatu inokulum yang mengandung 90% bakteri fermentasi dari genus Lactobacillus, bakteri Fotosintesis, dan Actinomycetes. Menurut Hadijaya ( 1994), bakteri-bakteri tersebut dapat hidup dalam suatu kultur cair.
Mikroorganisme Lokal (MOL) ini dapat dibuat dengan memanfaatkan limbah hasil pertanian. Dengan penggunaan MOL diharapkan harga pupuk bokasi akan lebih murah sehingga terjangkau oleh masyarakat. Selain limbah organik, pembuatan MOL juga memerlukan adanya bahan campuran berupa gula dan air cucian beras.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi MOL (Mikroorganisme Lokal) dan lama waktu pengomposan terhadap mutu kompos yang dihasilkan. Variabel yang digunakan adalah konsentrasi MOL yang terdiri dari tiga taraf yaitu M, (1%), M (2 %), dan M, (3 %). Lama waktu pengomposan terdiri dari empat taraf yaitu L, (0 hari), L (15 hari), L, (30 hari), dan L, (45 hari). Kombinasi dari perlakuan adalah 3 x 4 dengan menggunakan 2 kali ulangan (U) sehingga diperoleh 24 satuan percobaan. Analisis yang dilakukan meliputi jumlah mikroorganisme bakteri, jumlah mikroorganisme jamur, nilai pH, nilai suhu, nilai C/N ratio dan rendemen kompos.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa konsentrasi MOL (M) yang digunakan pada proses pengomposan berpengaruh sangat nyata (P 0,05) terhadap jumah mikroorganisme bakteri, jumlah mikroorganisme jamur, nilai pH, nilai suhu dan nilai C/N ratio.
Jenis bakteri yang terdapat di dalam MOL dan EM, adalah bakteri Lactobacillus sp. Bakteri ini berbentuk batang dan panjang serta merupakan anaerobik fak.ultatif. Jenis jamur yang terdapat selama pengomposan seperti Aspergillus dan Penicillium dapat menguraikan bahan organik secara cepat untuk menghasilkan alkohol, ester, dan zat-zat anti m ikroba.
Pengaturan pH selam a proses pengomposan perlu dilakukan sehingga pada tahap pengomposan, reaksi cenderung agak asam karena bahan organik yang dirombak menghasilkan asarn -asam organik sederhana. Namun, akan mulai naik sejalan dengan waktu pengomposan dan akhirnya akan stabil pada pH sekitar netral.
Kenaikan suhu disebabkan karena adanya aktivitas bakteri MOL berkembang biak yang menyebabkan kenaikan kalor dan terjadinya peningkatan suhu, kemudian pada lama waktu pengomposan 45 hari terjadi penurunan suhu, yang mana pada saat temperatur mencapai 27 ,2 °c Mesofllik yang bekerja dan beraktivitas d idalam proses penguraian.
Nilai C/N rasio kompos yang dihasilkan sudah baik yaitu berkisar IH - 17, apabila proses dekomposisi sudah mencapai tingkat akhir atau kompos telah matang, maka C/N rasio kompos berkisar antara 10- 20. Sal ah satu indikator yang menandakan berjalannya proses dekomposisi dalam pengomposan adalah penguraian C/N substrat oleh mikroorgan isme.
Dilihat dari mutu limbah, perlakuan konsentrasi MOL 3% dan lama waktu pengomposan 30 hari merupakan perlakuan yang terbaik menurut standar kualitas kompos.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK