<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="12276">
 <titleInfo>
  <title>MUSEUM TEKSTIL ACEH DI BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Chairina Ulfa</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik</publisher>
   <dateIssued>2015</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Aceh sebagai salah satu propinsi di Indonesia memiliki keanekaragaman kekayaan alam dan budaya yang istimewa, yang menjadi sumber ilham, daya cipta, dan daya hidup masyarakat Aceh sejak dulu. Salah satu produk kebudayaan Aceh yang sangat istimewa adalah tekstil tradisional yang difungsikan untuk berbagai kebutuhan sehingga tekstil tradisional menjadi produk yang memiliki pesan-pesan nilai budaya yang ingin disampaikan oleh masyarakat pendukung kebudayaan.&#13;
&#13;
Saat ini hal-hal yang berkenaan dengan pesan tersebut mulai dilupakan bahkan tidak lagi digemari oleh generasi penerus, disebabkan oleh pengaruh globalisasi yang memberikan dampak sangat besar terhadap kesadaran akan nilai budaya, akibatnya generasi penerus tidak lagi mengenal tekstil tradisional, tergeser oleh budaya kekinian globalisasi.&#13;
&#13;
Menjawab permasalahan-permasalahan tersebut, salah satu usaha yang dilakukan pemerintah khususnya pemerintah Aceh adalah menjalankan proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah (IDKD) pada tahun 1985/1986, hasil dari proyek tersebut diterbitkan dalam bentuk laporan hasil penelitian. Namun hal ini tidak cukup komunikatif untuk bisa sampai langsung ke masyarakat, sehingga dibutuhkan sebuah fasilitas yang menginventarisir dan mendokumentasi secara nyata tekstil-tekstil tradisional Aceh, yang diwujudkan dalam sebuah bangunan Museum Tekstil Aceh di Banda Aceh dengan mengangkat tema perancangan Architextiles.&#13;
&#13;
Kata Kunci : Museum Tekstil Aceh, Tekstil, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah (IDKD), Architextiles&#13;
</note>
 <subject authority="">
  <topic>MUSEUMS - ARCHITECTURE</topic>
 </subject>
 <classification>1</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>12276</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2015-02-06 16:41:34</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2016-07-22 10:01:27</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>