ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE MENGGUNAKAN REGRESI SPASIAL (STUDI KASUS : KASUS DBD DI PROVINSI ACEH TAHUN 2022) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE MENGGUNAKAN REGRESI SPASIAL (STUDI KASUS : KASUS DBD DI PROVINSI ACEH TAHUN 2022)


Pengarang

Wahdini Hanifa - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Latifah Rahayu Siregar - 198409282015042002 - Dosen Pembimbing I
Ardiansyah - 197212261992011001 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2008108010061

Fakultas & Prodi

Fakultas MIPA / Statistika (S1) / PDDIKTI : 49201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas MIPA Statistika., 2024

Bahasa

Indonesia

No Classification

519.536

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Jumlah kasus DBD dan wilayah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Kasus DBD di Provinsi Aceh mengalami peningkatan dari tahun 2021 sebanyak 366 kasus menjadi 1.988 kasus pada tahun 2022. Hal ini membuktikan bahwa perlu dilakukan penanganan permasalahan tersebut, diantaranya dengan melakukan analisis pola penyebaran kasus DBD dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Profil Kesehatan Aceh Tahun 2022, Provinsi Aceh dalam Angka 2023 dan publikasi BMKG Tahun 2022. Penelitian ini menggunakan data per kabupaten/kota di Provinsi Aceh dengan tidak memasukkan Kabupaten Simeulue dan Kota Sabang karena daratan kedua daerah tersebut terpisah dengan daratan 21 kabupaten/kota lainnya, sehingga dikhawatirkan hasil penelitian kurang tepat jika memasukkan kedua kabupaten/kota tersebut. Data penelitian ini terdiri dari 1 variabel dependen yaitu jumlah kasus DBD dan 8 variabel independen. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi jumlah kasus DBD adalah faktor iklim. Variabel iklim yang digunakan adalah curah hujan, suhu udara dan kelembapan udara. Data iklim hanya diukur di daerah yang terdapat stasiun BMKG, sehingga untuk melengkapi data per kabupaten/kota dilakukan interpolasi kriging. Metode yang digunakan adalah analisis regresi spasial untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan variabel independen dengan memerhatikan aspek lokasi (spasial). Hasil analisis regresi spasial menunjukkan bahwa model SARMA dipilih sebagai model terbaik untuk memodelkan kasus DBD di Provinsi Aceh karena signifikan pada uji LM dengan nilai AIC sebesar 58,483 dan R2 sebesar 65,5%. Faktor-faktor yang memengaruhi jumlah kasus DBD di Provinsi Aceh adalah kepadatan penduduk (X1), persentase rumah tangga dengan akses sanitasi layak (X4), rasio tenaga kesehatan (X5), rata-rata suhu udara (X7) dan rata-rata kelembapan udara (X8).

Kata kunci : DBD, Kriging, Regresi Spasial, SARMA

The number of dengue fever cases and the areas where they spread are increasing along with increasing mobility and population density. DHF cases in Aceh Province have increased from 366 cases in 2021 to 1,988 cases in 2022. This proves that it is necessary to address this problem, including by analyzing the pattern of distribution of dengue cases and identifying the factors that influence it. This research uses secondary data from the 2022 Aceh Health Profile, Aceh Province in Figures 2023 and the BMKG website. This research uses data per district in Aceh Province without including Simeulue Regency and Sabang City because the land of these two regions is separated from the land of 21 other regencies/cities, so it is feared that the research results will not be accurate if it includes these two regencies/cities. This research data consists of 1 dependent variable, namely the number of dengue fever cases and 8 independent variables. One of the factors thought to influence the number of dengue fever cases is climate. In the research there are 3 independent variables which are climate data, namely rainfall, air temperature and air humidity. Climate data is only measured in areas where there are BMKG stations, so to complete the data per district/city, kriging interpolation is carried out. The analysis used is spatial regression analysis to see the relationship between the dependent variable and the independent variable by paying attention to location (spatial) aspects. The SARMA model was chosen as the best spatial regression model for modeling dengue fever cases in Aceh Province because it was significant in the LM test with an AIC value of 58.483 and an R2 of 65.5%. Factors that influence the number of dengue fever cases in Aceh Province are population density (X1), percentage of households with access to adequate sanitation (X4), ratio of health workers (X5), average air temperature (X7) and average air humidity (X8). Keywords: DHF, Kriging, Spatial Regression, SARMA

Citation



    SERVICES DESK