<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="122438">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE MENGGUNAKAN REGRESI SPASIAL (STUDI KASUS :</title>
  <subTitle>KASUS DBD DI PROVINSI ACEH TAHUN 2022)</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Wahdini Hanifa</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas MIPA Statistika</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Jumlah kasus DBD dan wilayah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Kasus DBD di Provinsi Aceh mengalami peningkatan dari tahun 2021 sebanyak 366 kasus menjadi 1.988 kasus pada tahun 2022. Hal ini membuktikan bahwa perlu dilakukan penanganan permasalahan tersebut, diantaranya dengan melakukan analisis pola penyebaran kasus DBD dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Profil Kesehatan Aceh Tahun 2022, Provinsi Aceh dalam Angka 2023 dan publikasi BMKG Tahun 2022. Penelitian ini menggunakan data per kabupaten/kota di Provinsi Aceh dengan tidak memasukkan Kabupaten Simeulue dan Kota Sabang karena daratan kedua daerah tersebut terpisah dengan daratan 21 kabupaten/kota lainnya, sehingga dikhawatirkan hasil penelitian kurang tepat jika memasukkan kedua kabupaten/kota tersebut. Data penelitian ini terdiri dari 1 variabel dependen yaitu jumlah kasus DBD dan 8 variabel independen. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi jumlah kasus DBD adalah faktor iklim. Variabel iklim yang digunakan adalah curah hujan, suhu udara dan kelembapan udara. Data iklim hanya diukur di daerah yang terdapat stasiun BMKG, sehingga untuk melengkapi data per kabupaten/kota dilakukan interpolasi kriging. Metode yang digunakan adalah analisis regresi spasial untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan variabel independen dengan memerhatikan aspek lokasi (spasial). Hasil analisis regresi spasial menunjukkan bahwa model SARMA dipilih sebagai model terbaik untuk memodelkan kasus DBD di Provinsi Aceh karena signifikan pada uji LM dengan nilai AIC sebesar 58,483 dan R2 sebesar 65,5%. Faktor-faktor yang memengaruhi jumlah kasus DBD di Provinsi Aceh adalah kepadatan penduduk (X1), persentase rumah tangga dengan akses sanitasi layak (X4), rasio tenaga kesehatan (X5), rata-rata suhu udara (X7) dan rata-rata kelembapan udara (X8). &#13;
&#13;
Kata kunci : DBD, Kriging, Regresi Spasial, SARMA&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>REGRESSION ANALYSIS</topic>
 </subject>
 <classification>519.536</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>122438</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-04-16 16:06:09</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-04-17 09:43:02</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>