PROBLEMATIKA YANG DI HADAPI OLEH MURID WANITA DISAAT BELAJAR BELADIRI DI UKM BELADIRI UNIVERSITAS SYIAH KUALA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PROBLEMATIKA YANG DI HADAPI OLEH MURID WANITA DISAAT BELAJAR BELADIRI DI UKM BELADIRI UNIVERSITAS SYIAH KUALA


Pengarang

ISRAN SURDI - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Firdaus Mirza Nusuary - 198610162019031009 - Dosen Pembimbing I
Siti Ikramatoun - 199007012019032024 - Dosen Pembimbing II
Yuva Ayuning Anjar - 199301082019032020 - Penguji
Masrizal - 198404152010121005 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

1910101010108

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Sosiologi (S1) / PDDIKTI : 69201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik., 2024

Bahasa

Indonesia

No Classification

305.42

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Di masyarakat beladiri adalah suatu hal dianggab sesuatu yang maskulin atau erat kaitanya dengan para kaum laki-laki, dan jika ada wanita yang belajar beladiri maka itu dianggab adalah hal yang tidak sesuai dengan kodrat wanita, penelitian ini untuk menganalisis apa tujuan para murid wanita belajar beladiri dan apa saja problematika yang dihadapi oleh para murid wanita di saat belajar beladiri di UKM beladiri Universitas Syiah Kuala. Menganalisis fenomena tersebut penelitian ini menggunakan Teori feminisme liberal. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian penulis menunjukan bahwa, pertama para murid wanita UKM beladiri Universitas Syiah Kuala memiliki motivasi yang berbeda antara satu dengan yang lain, ada yang ingin sekedar belajar beladiri, ada yang ingin belajar berbaur dengan orang lain, ada yang hanya ingin menjadi atlet dan mendapatkan mendali, akan tetapi semua murid wanita memiliki pendapat yang sama mengenai bagaimana penting belajar beladiri bagi wanita. Untuk problematika para murid wanita yang belajar beladiri terdapat beberapa hal-hal yang mejadi problematika yang di hadapi oleh para wanita di saat belajar beladiri, yaitu streotip tetang wanita yang lebih lemah dari laki-laki sehigga membuat adanya perbedaan porsi latihan dan perlakuan yang di berikan ke pada para murid wanita, orang tua murid wanita melarang anaknya belajar beladiri, dominasi para murid laki-laki, dan permasalahan kenyamanan berpakaiaan yang bertentangan dengan norma yang ada di Aceh.
Kata kunci:Wanita, Beladiri, Stereotip

In society, martial arts is considered something masculine or closely related to men, and if there are women who learn martial arts then it is considered something that is not by women's nature. This research aims to analyze the purpose of female students learning martial arts. and what problems female students face when studying self-defense at Syiah Kuala University's self-defense UKM. Analyzing this phenomenon, this research uses liberal feminist theory. The research method used is qualitative with a phenomenological approach. Data collection techniques were carried out using observation, in-depth interviews, and documentation. The results of the author's research show that, firstly, the female martial arts UKM students at Syiah Kuala University have different motivations from each other, some want to just learn martial arts, some want to learn to mingle with other people, some just want to become athletes and get medals. However, all female students have the same opinion about how important it is to learn martial arts for women. Regarding the problems of female students learning martial arts, several things are problematic that women face when learning martial arts, namely stereotypes about women being weaker than men, which results in differences in the portion of training and treatment given to them. for female students, parents of female students prohibit their children from learning martial arts, male students dominate, and problems with clothing comfort are contrary to existing norms in Aceh. Keywords: Woman, Martial Arts, Stereotype

Citation



    SERVICES DESK