Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS SP. SEBAGAI MEDIA PENYEMBUH RETAK BETON TERHADAP KUAT TEKAN BETON MUTU TINGGI
Pengarang
MUHAMMAD HAIKAL - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Cut Nella Asyifa - 199607042022032023 - Dosen Pembimbing I
Teuku Budi Aulia - 196705291994031001 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
1904101010065
Fakultas & Prodi
Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S1) / PDDIKTI : 22201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2024
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Beton merupakan materi konstruksi yang sangat umum digunakan, namun keretakan pada beton adalah masalah yang tak dapat dihindari. Keretakan tersebut mengakibatkan penurunan daya tahan, permeabilitas, dan kekuatan struktural beton. Salah satu inovasi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memanfaatkan kemampuan self-healing beton menggunakan bakteri dalam campuran beton. Beton self-healing yang memungkinkan penyembuhan retakan kecil dengan bantuan bakteri yang diinduksi, sering disebut sebagai beton bakteri. Bakteri yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari genus Staphylococcus sp., dan dienkapsulasi dalam tanah diatomae untuk kemudian dicampurkan dalam campuran beton. Penelitian ini mengkaji pengaruh teknologi beton mutu tinggi dengan penambahan bakteri. Campuran beton mencakup bahan tambahan seperti bahan kimia (viscocrete 3115N), mineral (silica fume), dan bakteri genus Staphylococcus sp. Bakteri ini ditambahkan dalam variasi berat 0%, 0,5%, 0,6%, dan 0,7% dari berat semen dengan nilai FAS 0,3. Bakteri diberi nutrient broth yang menjadi nutrisi untuk bakteri, kemudian urea dan CaCl2 dihidrolisis menjadi CaCO3 (kalsit) oleh bakteri untuk menutup keretakan. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan diameter 10 cm dan tinggi 20 cm, total 12 benda uji dengan 9 benda uji yang menggunakan enkapsulasi bakteri. Pengujian kekuatan tekan beton dilakukan pada umur 28 hari dengan sebelumnya direndam beton selama 7 hari pasca diberikan retak awal 70% dari kuat tekan beton rencana 50 MPa dan dikalikan dengan faktor korelasi beton umur 7 hari. Hasil yang didapat dari penelitian ini perbaikan rata-rata retak oleh bakteri dengan variasi 0,7%; 0,6%; dan 0,5% setelah masa pemulihan 28 hari berturut-turut adalah 82,85%; 65,39%; dan 48,45%. Nilai kuat tekan rata-rata beton mutu tinggi pada variasi bakteri 0,7%; 0,6%; 0,5%; dan 0,0% adalah 63,87 MPa; 58,22 MPa; 43,79 MPa; 59,95 MPa. Persentase kenaikan nilai kuat tekan pasca pembebanan awal pada variasi bakteri 0,7%; 0,6%; 0,5% adalah 143,30%; 121,77%; 66,83%. Berdasarkan penelitian ini didapat variasi 0,7% memiliki efektivitas terbaik dalam peningkatan nilai kuat tekan.
Concrete is a very commonly used construction material, but cracks in concrete are an unavoidable problem. Such cracks result in a decrease in the durability, permeability, and structural strength of concrete. One innovation that can be used to overcome this problem is to take advantage of concrete's self-healing capabilities using bacteria in the concrete mixture. Self-healing concrete that allows healing of small cracks with the help of induced bacteria, is often referred to as bacterial concrete. The bacteria used in this study came from the genus Staphylococcus sp., and encapsulated in diatomae soil to be mixed in concrete mixture. This study examine the effect of high-quality concrete technology with the addition of bacteria. The concrete mixture include additional materials such as chemicals (viscocrete 3115N), minerals (silica fume), and bacteria of the genus Staphylococcus sp. These bacteria are added in weight variations of 0%, 0.5%, 0.6%, and 0.7% of the weight of cement with a FAS value of 0.3. Bacteria will be given a nutrient broth which becomes a nutrient for bacteria, then urea and CaCl2 be hydrolyzed into CaCO3 (calcite) by bacteria to close the crack. The specimens used are cylindrical with a diameter of 10 cm and a height of 20 cm, a total of 12 specimens with 9 specimens using bacterial encapsulation. Compressive strength testing of concrete was carried out at the age of 28 days with previously soaked concrete for 7 days after being given an initial crack of 70% of the compressive strength of concrete plan 50 MPa and with a correlation factor of concrete age 7 days. The results obtained from this study repaired the average crack by bacteria with a variation of 0.7%; 0,6%; and 0.5%. after a recovery period of 28 consecutive days was 82.85%; 65,39%; and 48.44%. The average compressive strength value of high-quality concrete at bacterial variation is 0.7%; 0.6%; 0.5%; and 0.0% is 63.87 MPa; 58.22 MPa; 43.79 MPa; 59.95 MPa. The percentage increase in compressive strength value after initial loading on bacterial variation is 0.7%; 0,6%; 0.5% is 143.30%; 121.77%; 66.83%. Based on this study, it was found that the 0.7% variation had the best effectiveness in increasing the compressive strength value.
PENGGUNAAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS SP. SEBAGAI MEDIA SELF HEALING CONCRETE TERHADAP KUAT TARIK BELAH BETON MUTU TINGGI (Hafiz Rizdy Maulana, 2025)
STUDI KUAT TEKAN MENGGUNAKAN BAKTERI SOLIBACILLUS SP. SEBAGAI SLEF-HEALING PADA BETON MUTU TINGGI (Ichsan Qibriel Herdianto, 2025)
STUDI KUAT TEKAN BETON MUTU TINGGI MENGGUNAKAN BAKTERI BACILLUS SP. SEBAGAI SELF HEALING AGENT (Muhammad Mumtazul Zikri, 2024)
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS SP. SEBAGAI MEDIA PENYEMBUH RETAK BETON TERHADAP KUAT TEKAN BETON MUTU TINGGI (MUHAMMAD HAIKAL, 2024)
PENGARUH PEMANFAATAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS DALAM SELF HEALING CONCRETE TERHADAP KUAT TARIK LENTUR BETON MUTU TINGGI (Vira Humaira, 2024)