PENGARUH PERBEDAAN SUDUT TERHADAP PERILAKU GERUSAN LOKAL (LOCAI SCAURING) PADA ABUTMEN JEMBATAN TIPE WING-WALL | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PENGARUH PERBEDAAN SUDUT TERHADAP PERILAKU GERUSAN LOKAL (LOCAI SCAURING) PADA ABUTMEN JEMBATAN TIPE WING-WALL


Pengarang

Fajrina Pradita - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

0704101020007

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S1) / PDDIKTI : 22201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2011

Bahasa

Indonesia

No Classification

627

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Gerusan (scourig) merupakan suatu proses alamiah yang terjadi di sungai akibat pengaruh morfologi sungai atau adanya bangunan air (hydraulic structure). Bangunan air seperti abutmen jembatan dapat menyebabkan perubahan pola aliran sungai, sehingga akan menimbulkan teriadinya gerusan lokal (local scoursing) di sekitar konstruksi abutmen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya kedalaman gerusan dan pola gerusan yang teriadi pada abutmen jembatan tipe wing-wall dengan sudut 400, 45°, 60°, 750 dan 90° sehingga diperoleh nilai koefisien abutmen (Ki) untuk sudut selain 45°. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Hidraulika Model Teknik Sungai dan Pantai, dengan menggunakan model abutmen tipe wing-wall yang dibuat dari kayu dengan panjang 12 cm, tebal 4.5 m dan tinggi 80 cm untuk sudut 40°, 450, 60°, 750 dan 90°. Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali running untuk masing - masing sudut dengan waktu 60 menit untuk tiap sekali runnng. Pengukuran kedalaman gerusan dilakukan pada 59 titik pengamatan di sekitar abutmen dengan menggunakan Point gquge dan grid. Hasil penelitian menunjukkan gerusan terbesar teriadi pada abutmen dengan sudut 40° yaitu sebesar 58.33 mm, dan gerusan terkecil teriadi pada sudut 60° sebesar 40.3 mm. Sedangkan untuk sudut 45°, 75° dan 90° nilainya berturut-turut adalah 53.33 mm, 50 mm dan 50.7 m. Berdasarkan analisa hasil di atas dapat diperoleh nilai koefisien bentuk abutmen (K1)) untuk sudut 40°, 60°, 75° dan 90° berturut - turut adalah 0.82, 0.57, 0.70 dan 0.71. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perbedaan sudut pada abutmen tipe wing-wall memberikan pengaruh terhadap kedalaman gerusan dan pola gerusan yang terjadi di sekitar abutmen jembatan.

Kata kunci : Abutmen tipe wing-wall, gerusan lokal.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK