<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="121295">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH PERBEDAAN SUDUT TERHADAP PERILAKU GERUSAN LOKAL (LOCAI SCAURING) PADA ABUTMEN JEMBATAN TIPE WING-WALL</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Fajrina Pradita</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik</publisher>
   <dateIssued>2011</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Gerusan  (scourig)  merupakan  suatu  proses  alamiah  yang  terjadi  di  sungai  akibat pengaruh morfologi sungai atau  adanya bangunan air (hydraulic structure). Bangunan air  seperti  abutmen  jembatan  dapat  menyebabkan  perubahan  pola  aliran  sungai, sehingga  akan  menimbulkan  teriadinya  gerusan  lokal  (local  scoursing)  di  sekitar konstruksi   abutmen.   Tujuan   penelitian   ini   adalah   untuk   mengetahui   besarnya kedalaman gerusan dan pola gerusan yang  teriadi pada abutmen jembatan tipe wing-wall  dengan  sudut  400,  45°,  60°,  750  dan  90°  sehingga  diperoleh  nilai   koefisien abutmen  (Ki)  untuk  sudut  selain  45°.  Penelitian  ini  dilakukan  di   Laboratorium Hidraulika Model  Teknik Sungai dan Pantai, dengan menggunakan  model abutmen tipe wing-wall yang dibuat dari kayu dengan panjang 12 cm, tebal 4.5 m dan tinggi 80 cm untuk sudut 40°, 450, 60°, 750 dan 90°. Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali running  untuk  masing  - masing  sudut  dengan  waktu  60  menit  untuk  tiap  sekali runnng.  Pengukuran  kedalaman  gerusan  dilakukan  pada  59   titik  pengamatan  di sekitar   abutmen   dengan   menggunakan  Point   gquge   dan   grid.   Hasil   penelitian menunjukkan  gerusan terbesar teriadi pada abutmen dengan sudut 40° yaitu sebesar 58.33 mm, dan gerusan terkecil teriadi pada sudut  60° sebesar 40.3 mm. Sedangkan untuk sudut 45°, 75° dan 90° nilainya berturut-turut adalah 53.33 mm, 50 mm dan 50.7  m. Berdasarkan  analisa  hasil  di  atas  dapat  diperoleh  nilai  koefisien  bentuk abutmen (K1)) untuk sudut 40°, 60°, 75° dan 90°  berturut - turut adalah 0.82, 0.57, 0.70  dan 0.71.  Sehingga dapat disimpulkan  bahwa perbedaan  sudut pada abutmen tipe  wing-wall memberikan pengaruh terhadap kedalaman gerusan dan pola gerusan yang terjadi di sekitar abutmen jembatan. &#13;
&#13;
Kata kunci : Abutmen tipe wing-wall, gerusan lokal.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>BRIDGES - CONSTRUCTION</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>HYDRAULIC STRUCTURES</topic>
 </subject>
 <classification>627</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>121295</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-03-19 10:30:30</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-03-19 10:37:53</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>