<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="120527">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH PENEMPATAN ORIFICE TERHADAP PERILAKU GERUSAN LOKAL PADA ABUTMEN JEMBATAN</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>NINA SHASKIA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik</publisher>
   <dateIssued>2011</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Gerusan   lokal  (local  scour)  merupakan  gerusan   yang  dihasilkan   secara  langsung akibat adanya  suatu  bangunan  seperti  abutmen  jembatan.  Penempatan orifice pada abutmen  adalah  salah  satu  upaya  untuk. mengendalikan  gerusan  lokal. Tujuan  dari penelitian  ini adalah  untuk  mengamati kedalaman  dan  pola  gerusan  yang  terjadi  di sekitar abutmen jembatan akibat penempatan orifice pada abutmen serta untuk mendapatkan  ketinggian  orifice yang paling  efektif dalam  mengendalikan  gerusan. Penelitian   ini dilakukan   dengan  menggunakan  model  abutmen   tipe  vertical-wall dengan ukuran panjang  12 cm, tebal 4,5 cm, dan   tinggi 80 cm dengan  variasi  letak orifice pada 0,2h; 0,4h; 0,6h; dan 0,8h dari dasar model  sungai, serta abutmen  tanpa orifice yang digunakan  sebagai pembanding. Pengamatan dilakukan  sebanyak  3 kali running selama  60 menit untuk  setiap  variasi abutmen  dengan perlakuan  yang sama. Pengukuran    kedalaman   gerusan   dilakukan    pada   59   titik   pengamatan   dengan menggunak an point gauge  dan  alat  bantu  grid.  Hasil  pengukuran    menunjukkan gerusan  maksimum  pada  bagian samping  hulu abutmen pada  kondisi  abutmen  tanpa orifice,  abutmen  dengan  orifice pada 0,2h;  0,4h; 0,6h; dan 0,8h berturut-turut adalah 61,7   mm,  59,3   mm,   55,7   mm,   57,7   mm,   dan   47,5  mm.   Sedangkan   gerusan maksimum  pada bagian  samping hilir  abutmen  pada  kondisi abutmen  tanpa orifice, abutmen  dengan  orifice pada  0,2h;  0,4h;  0,6h;  dan  0,8h  berturut- turut  adalah  38,3 mm,   40,0   mm,   43,7   mm,   41,7   mm,   dan   26,7   mm.   Hasil   yang   diperoleh menunjukkan  bahwa  di  bagian  hulu,  penempatan   orifice  pada   0,8h  mengurangi besar  gerusan  sekitar  24,324% dibandingkan  dengan  tanpa  adanya  orifice. Namun, pola  gerusan  yang  terjadi  akibat  penempatan orifice tidak  memberikan perbedaan yang  cukup  signifikan .  Secara  keseluruhan,   dapat  disimpulkan  bahwa  penempatan orifice pada abutmen  berpengaruh  terhadap kedalaman  gerusan  yang terjadi.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kata kunci:  abutmen tipe vertical-wall, gerusan  lokal, orifice.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>120527</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-02-17 00:49:54</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-02-17 00:49:54</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>