SISTEM KENDALI PENETAS TELUR BERBASIS MIKROKONTROLER AT89C51 | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

SISTEM KENDALI PENETAS TELUR BERBASIS MIKROKONTROLER AT89C51


Pengarang

Ahmad Suryadi - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

0041512542

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Elektro (S1) / PDDIKTI : 20201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2007

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)


Penetas telur yang selama ini sudah ada di pasaran masih menggunakan pengontrol manual berupa thermostat. dan tidak adanya output, yaitu berupa informasi keadaan temperatur dan kelembaban di dalam penetas. Dalam perancangan alat ini, sensor temperatur LM35 dan sensor kelembaban RHK IAN dapat kita gunaan sebagai detektor suhu dan kelembaban yang keluarannya berupa tegangan dalam satuan Volt. Data tegangan ini masuk ke ADC 0804 untuk dirubah menjadi besaran digital. Input data ini kemudian masuk ke Mikrokontroler AT89C51 untuk diproses, dan dikeluarkan ontput besar temperatur dan kelembaban ruang ke LCD. Apabila temperaturnya terlalu besar, maka akan mengaktifkan relay yang terhubung dengan 2 buah bola lampu pijar I00 watt, dan mematikannya. Sedang apabila suhunya yang terlalu besar, akan menghidupkan alarm. Bearti air dalam baskom yang digunakan sebagai pengatur kelembaban ruangan penetas, sudah kering, tinggal ditambah lagi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem kendali ini mampu mengontrol temperatur antara 38 C -40 °C dan kelembaban 50 % RH -70 % RH, yaitu besar temperatur dan kelembaban yang dibutuhkan oleh telur untuk menetas. Pada pengujian selama 21 hari, diperoleh hasil bahwa temperatur ruang terendah adalah 38,27 C dan suhu tertinggi adalah 40 •C. Pada pengukuran terdapat kesalahan pada pengkonversian suhu oleh sensor LM35 yang dipakai dibandingkan dengan termometer. Kesalahan terbesar hasil pengujian sebesar 1,2 C. Hal ini disebabkan kesalahan yang terjadi waktu penyolderan alat. Untuk Besar kelembabannya tergolong stabil. Didapati juga bahwa tegangan output keluaran sensor kelembaban RHKIAN berupa tegangan dalam besaran milivolt, sehingga memerlukan perancangan sebuah penguat terlebih dahulu sebelum masuk ke kaki ADC.



Kata Kunci: LM35, RHKIAN, Mikrokontroler AT89C5I














Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK