<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="120344">
 <titleInfo>
  <title>TAHAP PEMAAFAN ORANG TUA KEPADA PELAKU PERKOSAAN ANAK</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Hishatul Jinan</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Psikologi</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Perkosaan merupakan salah satu bentuk dari kekerasan seksual yang sangat traumatis bagi korban hingga menimbulkan berbagai dampak negatif. Peristiwa perkosaan tersebut menyebabkan orang tua korban menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan dan ikut merasakan berbagai dampak negatif dari peristiwa traumatis tersebut. Hal ini membuat orang tua memerlukan cara untuk mengurangi dampak negatif yang dirasakan, salah satunya melalui pemaafan. Pemaafan berarti kesediaan individu untuk melepaskan segala hal-hal negatif seperti pikiran, perasaan, dan perilaku negatif terhadap pelaku yang seiring berjalannya waktu akan berubah menjadi lebih positif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tahap pemaafan orang tua kepada pelaku perkosaan anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus dan menggunakan purposive sampling dengan jenis typical sample. Partisipan dalam penelitian ini adalah satu pasang orang tua yang memiliki anak korban perkosaan dan dalam pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depth interview). Hasil penelitian ini menemukan kedua partisipan belum dapat memaafkan pelaku dan masih berada pada tahap uncovering phase, yang mana kedua partisipan masih merasakan marah, sakit hati, serta memiliki keinginan untuk balas dendam pada pelaku. Kemudian jika dilihat dari segi afektif, kognitif, dan perilaku, kedua partisipan tidak menunjukkan perasaan, pemikiran, serta perilaku yang berubah menjadi lebih positif kepada pelaku. Pemaafan yang dijalani oleh orang tua juga dipengaruhi oleh faktor sosial kognitif, karakteristik serangan, serta kualitas hubungan interpersonal.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>120344</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-02-12 10:35:16</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-02-12 12:14:06</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>