PERILAKU GERUSAN LOKAL PADA PILAR JEMBATAN AKIBAT BANJIR BANDANG (FLASH FLOOD ) YANG MENGANGKUT MATERIAL SEDIMEN | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PERILAKU GERUSAN LOKAL PADA PILAR JEMBATAN AKIBAT BANJIR BANDANG (FLASH FLOOD ) YANG MENGANGKUT MATERIAL SEDIMEN


Pengarang

ARIFIANSYAH - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

060410I020030

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S1) / PDDIKTI : 22201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2010

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Gerusan merupakan suatu perubahan pola aliran yang disertai pemindahan material melalui aksi gerakan fluida. Gerusan lokal umumnya terjadi pada alur sungai yang terhalang oleh adanya konstruksi bangunan di sungai, salah satunya adalah pilar jembatan. Ketika aliran sungai melewati pilar jembatan maka terjadi sistem aliran vortex. Sistem aliran ini menyebabkan turbulensi aliran sehingga akan mengalami penggerusan disekitar pilar. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya gerusan lokal pada pilar jembatan yaitu: bentuk geometrik pilar, jenis sedimen, dan karakteristik aliran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku gerusan meliputi kedalaman gerusan dan distribusi gerusan pada kondisi aliran banjir bandang yang mengangkut material sedimen yang terjadi pada pilar jembatan tipe sharp nose. Ruang lingkup penelitian mencakup pengukuran gerusan akibat aliran banjir bandang dengan rasio sedimen yang berbeda. Penelitian perilaku gerusan pada pilar jembatan akibat aliran banjir bandang ini dilakukan dengan menggunakan 4 rasio volume sedimen terhadap volume air. Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali running dengan debit aliran yang sama untuk masing-masing rasio. Simulasi banjir bandang dikerjak.an dengan menggunak.an bak. tampungan yang mampu menahan volume air 0,5 m'. Banjir bandang berlangsung seketika saat pintu air dibuka seluruhnya. Setelah running, pengukuran gerusan dilakukan dengan menggunakan point gauge dan grid untuk memperoleh data distribusi gerusan pada 50 titik disekitar pilar dan kedalaman maksimum gerusan yang terjadi. Dari basil pengukuran ditampikan berupa peta kontur pola gerusan yang diperoleh dengan menggunak.an program Surfer dan hubungan antara rasio sedirnen terhadap kedalaman gerusan maksimum yang terjadi serta perbandingan kedalaman gerusan antara aliran banjir bandang dengan aliran banjir normal. Berdasarkan analisa penelitian yang didapat, semakin besarnya rasio sedirnen pada aliran banjir bandang maka ak.an semak.in kecil kedalaman gerusan yang terjadi dan pofa gerusan pun ak.an semakin acak. (random). Dan selanjutnya kedalaman gerusao pada aliran banjir bandang mengalami kenaikan sebesar 22% dari kedalaman gerusan pada aliran banjir normal.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK