<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="118746">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH PEMBALUTAN TERHADAP WAKTU PENYEMBUHAN LUKA BAKAR GRADE II PADA TIKUS PUTIH:</title>
  <subTitle>PRELIMINARY STUDY</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Naynuunis Zulfachri</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
&#13;
Introduksi: Luka bakar merupakan luka yang diakibatkan kontak dengan api, listrik, gesekan, bahan kimia, atau radiasi. Grade luka bakar dipengaruhi oleh kedalaman lapisan kulit yang terluka oleh benda panas. Luka bakar grade II merupakan jenis luka bakar yang paling sering terjadi. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembalutan elastomull dalam penanganan luka bakar yang diuji pada tikus putih yang diinduksi luka bakar grade II untuk memperoleh data sebagai preliminary study sebelum melakukan penelitian lanjutan. Metode: Pada penelitian ini, enam sampel tikus putih dibagi menjadi dua kelompok uji. Kelompok K(+) dioleskan obat silver sulfadiazine dan dibalut menggunakan perban elastis elastomull sedangkan kelompok uji K(-) dioleskan obat silver sulfadiazine tanpa dibalut menggunakan perban elastis elastomull. Induksi luka bakar dilakukan dengan cara membakar kulit bagian punggung tikus yang telah dicukur dengan besi solder pada suhu 100℃ selama 5 detik sehingga terbentuk luka bakar grade II. Balutan diganti setiap hari dan luas luka diukur setiap tiga hari hingga hari ke-18. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan luas luka pada kelompok K(+) berukuran lebih kecil daripada kelompok K(-) setelah hari ke-3 dan seterusnya. Pembalutan elastomull juga dapat membantu penyembuhan luka pada fase inflamasi dan proliferasi. Hasil tersebut secara statistik didapatkan tidak signifikan. Hal ini dapat dikarenakan oleh variasi tinggi dari data, jumlah sampel yang kurang, atau waktu penelitian yang tidak lanjut hingga luka sembuh. Kesimpulan: Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah tidak didapatkan signifikansi secara statistik antara penyembuhan luka bakar yang dibalut dengan elastomull dan tanpa dibalut dengan elastomull.&#13;
&#13;
&#13;
Kata kunci: Luka bakar, elastomull, tikus Wistar</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>BURNS - MEDICINE</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>WOUNDS</topic>
 </subject>
 <classification>617.11</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>118746</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-12-27 09:59:23</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-02-19 09:36:37</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>