KOMUNIKASI INTRABUDAYA PADA PROSESI ADAT PERNIKAHAN JAWA DI KECAMATAN GALANG KABUPATEN DELI SERDANG | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

KOMUNIKASI INTRABUDAYA PADA PROSESI ADAT PERNIKAHAN JAWA DI KECAMATAN GALANG KABUPATEN DELI SERDANG


Pengarang

Lathifa Maulani - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Rahmawati - 196209022000122003 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

1910102010007

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Komunikasi(S1) / PDDIKTI : 70201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas FISIPOL., 2023

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan melihat fenomena yang ada di daerah Kecamatan Galang, dimana masih banyak masyarakat suku Jawa yang kurang memahami adat budayanya sendiri, khususnya melihat prosesi adat pernikahan Jawa yang masih dilaksanakan di daerah kecamatan Galang. Kebanyakan masyarakat menganggap prosesi adat hanya sebagai ritual yang wajib ada tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dari simbol-simbol yang ada pada prosesi adat pernikahan Jawa di Kecamatan Galang kabupaten Deli Serdang. Penelitian ini menggunkan teori interakasi simbolik George Herbert Mead untuk melihat bagaimana makna yang terkandung dalam setiap interaksi yang terjadi dalam setiap prosesi adat pernikahan Jawa di Kecamatan Galang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskripif dengan pendekatan penelitian etnografi melalui teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek penelitiannya adalah pernikahan adat Jawa di Kecamatan Galang. Informan berjumlah 3 orang, dimana 2 diantaranya adalah pranatacara yang masih aktif untuk melaksanakan upacara temu manten dan 1 diantaranya tokoh adat yang telah berhenti dari dunia pranatacara. Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan, didapati bahwa pernikahan adat Jawa di Kecamatan Galang memiliki 6 prosesi adat dalam upacara temu manten yaitu: prosesi temu manten, prosesi injak telur, prosesi kendian/pecah kendi, prosesi gendong manten, prosesi sungkeman serta prosesi sulangan. Pelaksanaan temu manten yang biasanya lempar sirih menggunakan sirih, di Kecamatan Galang hanya menggunakan bunga, lalu prosesi timbangan yang biasanya dilaksanakan di daerah jawa tidak dilaksanakan di Kecamatan Galang. Dalam pernikahan adat Jawa terdapat benda yang disimbolkan dalam setiap prosesinya memliki makna berupa nasihat dan gambaran hak dan tanggung jawab yang akan dilaksanakan oleh sepasang pengantin nantinya. Adapun dalam simbol non verbal pada pelaksanaan prosesi temu manten, terdapat makna simbolik yang menarik seperti pada prosesi sulangan, dimana makna dari makanan yang dimakan pada prosesi ini seperti nasi putih, sayur dan lauk pauk adalah penggambaran rasa asin, manis, pedas, gurih yang diartikan bahwa dalam berumah tangga nanti akan adanya rasa sayang, marah cemburu dalam menjalaninya, serta meminum air putih bening ysng diartikan sebagai simbol rasa pengertian, yang mana dalam menjalani kehidupan berumah tangga semua dinikmati apapun yang terjadi dan dibarengi dengan rasa saling pengertian agar rumah tangga langgeng. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan untuk peneliti selanjutnya dalam meneliti budaya pernikahan adat Jawa.
Kata Kunci: Komunikasi Intrabudaya, Prosesi Adat, Pernikahan Adat Jawa

ABSTRACT This research is motivated by observing the phenomenon in the Galang District, where there are still many Javanese people who do not fully understand their own customs and traditions, especially when it comes to the traditional Javanese wedding ceremony that is still practiced in the Galang District. Most of the people consider these customs merely as obligatory rituals without understanding the underlying meanings. The aim of this research is to understand the meanings of the symbols used in the traditional Javanese wedding ceremony in the Galang District of Deli Serdang Regency. This study utilizes George Herbert Mead's theory of symbolic interactionism to examine the meanings embedded in each interaction that occurs during the Javanese wedding ceremony in the Galang District. The research employs a qualitative descriptive research method with an ethnographic approach, collecting data through observation, interviews, and documentation. The research subjects are Javanese traditional weddings in the Galang District. There are three informants, two of whom are active practitioners of the wedding ceremony, and one is a traditional figure who has retired from the world of ceremonial practices. The research findings indicate that traditional Javanese weddings in the Galang District consist of six customary processes in the "temu manten" ceremony: the "temu manten" procession, the egg-stepping procession, the "kendian/pecah kendi" procession, the "gendong manten" procession, the "sungkeman" procession, and the "sulangan" procession. Unlike in other areas of Java, in the Galang District, the traditional "lempar sirih" ritual is performed using flowers instead of betel leaves, and the ritual of weighing is not conducted. In Javanese traditional weddings, symbolic objects in each process convey advice and expectations regarding the rights and responsibilities of the future couple. Furthermore, in non-verbal symbols during the "temu manten" ceremony, there are meaningful symbols, such as in the "sulangan" procession, where the foods consumed, such as white rice, vegetables, and various dishes, symbolize the flavors of saltiness, sweetness, spiciness, and savoriness, signifying that in married life, there will be moments of love, anger, jealousy, and understanding, represented by drinking clear water as a symbol of mutual understanding to maintain a harmonious marriage. It is hoped that this research can serve as a reference for future researchers studying Javanese traditional wedding culture. Keywords: intracultural communication, traditional procession, traditional Javanese wedding

Citation



    SERVICES DESK