HUBUNGAN TINGKAT KONTROL ASMA DENGAN RISIKO OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA (OSA) PADA PENDERITA ASMA DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

HUBUNGAN TINGKAT KONTROL ASMA DENGAN RISIKO OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA (OSA) PADA PENDERITA ASMA DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH


Pengarang

Nadya Jondri - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1107101010135

Fakultas & Prodi

Fakultas Kedokteran / Pendidikan Dokter (S1) / PDDIKTI : 11201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Kedokteran., 2014

Bahasa

Indonesia

No Classification

1

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Obstructive sleep apnea (OSA) merupakan gangguan pernapasan saat tidur yang ditandai dengan keadaan apnea dan hipopnea akibat adanya sumbatan total atau sebagian pada saluran napas atas yang terjadi secara berulang sehingga menyebabkan aliran udara ke paru menjadi terhambat. Salah satu faktor risiko OSA adalah penyakit asma. Gejala malam yang sering muncul pada penderita asma yang tidak terkontrol menggambarkan abnormalitas fungsi paru selama tidur yang dapat berupa keluhan ringan hingga OSA yang dapat mengancam nyawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kontrol asma dengan risiko OSA pada penderita asma. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan dilakukan di Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling. Pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan November tahun 2014. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah Uji Fisher. Dari 58 sampel responden penelitian, 41 orang berjenis kelamin perempuan dan paling banyak berusia 26-35 tahun. Berdasarkan hasil ACT, 84,5% subjek memiliki asma tidak terkontrol, 15,5% subjek memiliki asma terkontrol sebagian, dan tidak satupun yang memiliki asma terkontrol penuh. Sedangkan berdasarkan kuesioner Berlin, 41,4% subjek memiliki risiko tinggi OSA dan 58,6% subjek memiliki risiko rendah OSA. Hasil uji Fisher antara tingkat kontrol asma dengan risiko OSA didapatkan p value 0,185. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kontrol asma dengan risiko OSA pada penderita asma.

Kata Kunci: Asma, ACT, Kuesioner Berlin, OSA







Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK