<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="117110">
 <titleInfo>
  <title>EFEK PEMBERIAN EKSTRAK SARANG SEMUT PADA KELINCI NEW ZEALAND WHITE YANG MENGALAMI TRANSPLANTASI OVARIUM SAPI ACEH TERHADAP PENURUNAN KONSENTRASI HORMON KORTISOL</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Dede Rehaldi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Transplantasi dapat mengakibatkan stress yang memicu sekresi corticotropin-releasing hormone (CRH) sehingga menggertak hipofisa mengeluarkan adrenocorticotropic hormone (ACTH) dan selanjutnya terjadi peningkatan hormon kortisol. Dampak peningkatan kortisol dapat dikurangi dengan pemberian ekstrak tanaman sarang semut (Myrmecodia pendans) yang bersifat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi ekstrak sarang semut untuk menurunkan konsentrasi hormon kortisol pada kelinci New Zealand White (NZW) yang mengalami transplantasi ovarium. Dalam penelitian ini digunakan enam ekor kelinci betina NZW bunting semu, berumur 3-5 tahun dan bobot badan 1,5-3,0 kg. Setelah adaptasi selama 30 hari, seluruh kelinci dikelompokkan dalam dua kelompok perlakuan (n=3), yaitu K1 dan K2. Kelompok K1 adalah kelompok kelinci bunting semu yang menerima transplantasi ovarium dan diberikan ekstrak tanaman sarang semut dengan dosis 200 mg per oral. Kelompok K2 adalah kelompok kelinci bunting semu yang menerima transplantasi ovarium dan diberikan imunosupresan yakni kombinasi cyclosporine 2,5 mg/kg secara intramuskulus dan azathioprine dosis 5 mg/kg bb per oral.  Pemberian perlakuan pada semua kelompok dilakukan setiap pagi dan sore hari mulai pelaksanaan transplantasi ovarium sampai hari ke-5 setelah transplantasi. Induksi bunting semu dilakukan dengan menggunakan PMSG dan hCG. Transplantasi ovarium sapi aceh dilakukan pada hari ke-8 (hari ke-0 adalah hari ketika injeksi hCG). Feses dikoleksi pada hari ke-1 (H1), 3 (H3), dan 5 (H5) setelah transplantasi. Konsentrasi metabolit hormon kortisol diukur menggunakan teknik enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Konsentrasi hormon kortisol pada K2 lebih rendah dibandingkan K1 pada H1 dan H3 dengan nilai masing-masing adalah 151,69±103,11 dan 193,78±36,72 ng/g; dan 63,06±42,07 dan 361,76±340,34 ng/g (P</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>117110</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-11-20 10:57:13</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-11-20 11:04:12</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>