<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="116921">
 <titleInfo>
  <title>EFEK PEMBERIAN KRIM BIJI PALA 3% (MYRISTICA FRAGRANS) TERHADAP PERUBAHAN MAKROSKOPIS KULIT TIKUS YANG DIINDUKSI LUKA BAKAR GRADE II</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Bianda Sabrina Farsa</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kejadian luka bakar merupakan insiden yang sering terjadi di masyarakat akibat kecelakaan kerja, kecelakaan rumah tangga, maupun proses alami. Prognosis penyembuhannya sangat tergantung penanganannya. Salah satunya terapi tradisional yang digunakan adalah minyak pala (Myristica fragrans). Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan fitokimia minyak atsiri pala dan membuktikan efek krim biji pala 3% terhadap penyembuhan luka bakar. Penelitian menggunakan 16 ekor tikus yang diinduksi luka bakar grade II melalui penempelan besi bundar panas (100oC) pada punggung tikus selama 5 detik. Krim pala dioleskan sesuai kelompok perlakukan dua kali sehari selama 18 hari. Diameter luka diukur dengan metode Morton (dalam cm) pada hari ke 0, 3 dan 18. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri pala mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan terpenoid. Diameter yang terbentuk pada hari ke-0 rata-rata sebesar 1,4 cm pada semua kelompok uji. Diameter luka pada hari ke-3 meningkat secara signifikan dan terus mengecil hingga hari ke 18. Diameter luka bakar terkecil dijumpai pada kelompok tikus yang dioleskan krim biji pala 3% (0,86±0,37 cm), diikuti kelompok yang dioleskan silver sulfadiazine (0,93±0,29 cm). Persentase penyembuhan luka bakar terbesar dijumpai pada kelompok luka bakar yang diberikan silver sulfadiazine (56,08±14,05%) yang berbeda signifikan dibanding kelompok tikus yang hanya diberikan basis krim (p</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>116921</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-11-09 19:48:23</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-11-10 08:12:30</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>