<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="115438">
 <titleInfo>
  <title>PRESERVASI KERING OOSIT IKAN BETOK (ANABAS TESTUDINEUS) PADA SUHU YANG BERBEDA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Tjut Nyak Ghalda Geitsa</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kelautan dan perikanan</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Ikan betok (Anabas testudineus) dikenal dengan nama umum climbing perch, mempunyai tekstur daging yang lembut dan gurih sehingga digemari oleh masyarakat. Namun dalam perkembangannya para pembudidaya menghadapi beberapa masalah, diantaranya tidak tersedianya benih dalam jumlah yang cukup secara berkesinambungan dan ketidaksinkronan waktu kematangan gonad pada ikan jantan dan betina. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu melalui teknik penyimpanan sperma dan oosit. Secara umum terdapat 2 jenis penyimpanan yaitu, penyimpanan beku (kriopreservasi) dan non-beku (refrigerasi). Refrigerasi adalah teknik penyimpanan sel sperma atau sel telur atau material genetik lainnya pada jangka waktu pendek menggunakan suhu 0˚C-4˚C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu preservasi yang optimum untuk oosit ikan betok berdasarkan nilai fertilisasi, daya tetas dan normalitas larva. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan yaitu PA (29°C), PB (8°C), PC (4°C), PD (0°C), PE (-4°C), PF (-8°C). Oosit dilakukan preservasi pada suhu perlakuan selama 120 menit, dimana setiap 30 menit oosit akan dilakukan fertilisasi. Hasil penelitian preservasi oosit ikan betok menunjukkan bahwa perbedaan suhu penyimpanan berpengaruh nyata terhadap fertilitas (P0,05). Persentase fertilitas tertinggi diperoleh pada perlakuan B (8°C) dimenit ke-30 dengan nilai sebesar 50,33%, nilai ini berbeda nyata pada semua perlakuan. Nilai persentase daya tetas tertinggi juga diperoleh pada perlakuan B (8°C) dimenit ke-30 dengan nilai sebesar 12%, nilai ini berbeda nyata pada perlakuan E (-4°C) dan F (-8°C), namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan A (29°C), C (4°C) dan D (0°C) (P&gt;0,05). Pengamatan pada normalitas larva yang menetas menunjukkan semua larva yang menetas berbentu normal (100%), artinya bahwa tidak ada larva abnormal yang terdeteksi.&#13;
&#13;
Kata kunci: Anabas testudineus, preservasi oosit, fertilisasi, daya tetas, normalitas larva&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>115438</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-09-20 09:17:19</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-09-21 09:56:16</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>