Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS SEMIOTIKA MAKNA PESAN VERBAL DALAM ADAT BEGURU (ADAT ISTIADAT PRANIKAH ETNIS GAYO KABUPATEN ACEH TENGAH)
Pengarang
Raffika Ananda - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nadia Muharman - 198410082014012101 - Dosen Pembimbing I
Nisa Ul Hikmah - 199211192021022101 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
1910102010006
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Komunikasi(S1) / PDDIKTI : 70201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik., 2023
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengungkap makna pesan verbal yang terdapat di
dalam adat beguru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan teori
semiotika Roland Barthes yang terdiri dari tataran denotatif, konotatif, dan mitos sebagai pisau
analisisnya. Teks beguru dianalisis dan dideskripsikan makna-makna yang terkandung di
dalamnya. Teks beguru terdiri dari delapan kalimat memiliki pesan-pesan yang disusun secara
sederhana namun memiliki makna yang mendalam. Kalimat pertama yang berisi tentang
kewajiban orang tua dalam membesarkan, mendidik, sampai menikahkan anaknya. Kalimat
kedua menjelaskan suku Gayo sangat menghargai dan berpegang teguh pada adat istiadatnya.
Pada kalimat ketiga menjelaskan adat istiadat Gayo bersumber dari syariat Islam. Kalimat
keempat menjelaskan bagaimana suku Gayo mengatur adab dalam berjalan, melihat, duduk, dan
berbicara. Kalimat kelima terdapat sifat-sifat tercela yang harus dihindari seperti berkata kasar,
tidak mempedulikan dan mengambil hak orang lain. Kalimat keenam menjelaskan adat sumang
yang bersumber dari syariat islam yang bertujuan untuk mengatur tata cara pergaulan laki-laki
dengan perempuan. Kalimat ketujuh terdapat sifat-sifat positif dan negatif dalam perspektif
masyarakat suku Gayo yang bersumber dari tingkah laku sehari-hari masyarakat suku tersebut.
Kalimat kedelapan menjelaskan kewajiban umat Islam untuk melaksanakan perintah Allah dan
menjauhi segala larangannya. Peneliti juga menyimpulkan terdapat nilai-nilai di dalam adat
beguru ini yaitu nilai-nilai keagamaan yang meliputi amar ma’ruf nahi munkar. Nilai sosial yaitu
hubungan manusia dengan manusia lainnya seperti anjuran menjalin hubungan baik dengan
keluarga, kerabat dekat, lingkungan masyarakat serta menempatkan diri sebagai pribadi yang
baik dan toleran. Terakhir nilai adat istiadat suku Gayo yang terdiri dari larangan atau pantangan
adat seperti tata cara pergaulan laki-laki dengan perempuan (sumang), serta adab seseorang
ketika melihat, duduk, berbicara, dan berjalan.
Kata Kunci: Pesan Verbal, Beguru, Semiotika, Perkawinan, Budaya Gayo
This study aims to find out and reveal the meaning of verbal messages contained in the beguru custom. This research uses a descriptive qualitative approach and Roland Barthes' semiotic theory consisting of denotative, connotative, and mythical levels as the analysis knife. The text of beguru is analyzed and described the meanings contained in it. The text consists of eight sentences that have messages that are arranged simply but have deep meaning. The first sentence contains the obligation of parents in raising, educating, and marrying their children. The second sentence explains that the Gayo tribe values and sticks to its customs. The third sentence explains Gayo customs derived from Islamic law. The fourth sentence explains how the Gayo tribe arranges in walking, seeing, sitting, and talking. The fifth sentence contains reprehensible qualities that should be avoided such as speaking harshly, not caring and taking away the rights of others. The sixth sentence explains the sumang custom derived from Islamic sharia which aims to regulate the procedures for association of men with women. The seventh sentence contains positive and negative qualities in the perspective of Gayo tribe community which comes from the daily behavior of the tribal community. The eighth sentence explains the duty of Muslims to carry out Allah's commandments and stay away from all his prohibitions. Researchers also concluded that there are values in this beguru custom, namely religious values which include Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Social values are human relationships with other humans such as encouragement to establish good relationships with family, close relatives, the community environment and place themselves as good and tolerant individuals. Finally, the value of Gayo tribal customs consisting of prohibitions or customary taboos such as the procedures for associating men with women (sumang), as well as one's character when seeing, sitting, talking, and walking. Keywords: Verbal Message, Beguru, Semiotics, Marriage, Gayo Culture
NILAI-NILAI PENDIDIKAN PADA SEBUKU BEGURU DALAM KONTEKS SOSIAL MASYARAKAT ETNIK GAYO (Nantuhateni Arda, 2020)
PESAN SIMBOLIK DALAM PROSESI PERNIKAHAN ADAT GAYO DI KECAMATAN BLANGKEJEREN KABUPATEN GAYO LUES (Ali Mustafa, 2017)
EKSISTENSI MAJELIS ADAT GAYO DALAM PROSES PEMILIHAN REJE KAMPUNG PAYA KOLAK (Wandi, 2019)
NILAI-NILAI DALAM BEGURU PADA UPACARA PERKAWINAN ADAT GAYO DI KECAMATAN BEBESEN ACEH TENGAH (IHTIARA UTAMI, 2025)
REPRESENTASI NILAI-NILAI KEISLAMAN PAKAIAN ADAT ACEH DI MUSEUM ACEH (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) (AGUS MULYADI, 2022)