ANALISIS FUNGSIONALISME ROBERT K MERTON TERHADAP KERUKUNAN MASYARAKAT BEDA AGAMA (STUDI KASUS DI KECAMATAN LAWE SIGALA-GALA KABUPATEN ACEH TENGGARA) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS FUNGSIONALISME ROBERT K MERTON TERHADAP KERUKUNAN MASYARAKAT BEDA AGAMA (STUDI KASUS DI KECAMATAN LAWE SIGALA-GALA KABUPATEN ACEH TENGGARA)


Pengarang

M. ILHAM FAJAR - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Khairulyadi - 197705302010121001 - Dosen Pembimbing I
Yuva Ayuning Anjar - 199301082019032020 - Dosen Pembimbing II
Bukhari - 197505242009121001 - Penguji
Masrizal - 198404152010121005 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

1710101010037

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Sosiologi (S1) / PDDIKTI : 69201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas FISIPOL., 2023

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Toleransi yang ada di Kecamatan Lawe Sigala-gala Aceh tenggara menjadi
fenomena unik karena populasi nya yang lebih banyak beragama Kristen daripada
Islam sebagaimana wilayah Aceh pada umumnya. Meskipun secara mayoritas lebih
banyak berasal dari Kristen Protestan, akan tetapi toleransi antar agama baik dari
segi ibadah dan hubungan sosial tetap terjaga sampai saat ini. Tujuan dari penelitian
ini ialah untuk proses terbentuknya sebuah sistem yang fungsional toleransi di
Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara serta melihat proses
terbentuknya toleransi bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Metode penelitian
yang digunakan ialah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode ini
memakai teknik pengumpulan data diantaranya observasi, wawancara dan
dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan Lahirnya toleransi yang tinggi di sini
juga tidak bisa dilepaskan dari faktor sejarah Aceh tenggara yang lebih banyak dari
masyarakat pendatang dari Tanah Alas Batak membuat masyarakat Aceh Tenggara
sudah hidup dengan berbagai suku dan etnis. Selain karena faktor sejarah juga ada
fungsi-fungsi yang dirasakan oleh masyarakat Lawe Sigala-gala baik itu secara
manifest maupun secara laten. Fungsi manifest yang bisa dirasakan dari adanya
toleransi ini ialah adanya keamanan dan kenyamanan dalam beribadah, mencegah
adanya disintegrasi sosial dan adanya kebebasan pendapat mengenai keagamaan.
Selain itu juga ada fungsi laten yakni fungsi yang tidak direncanakan tetapi
dirasakan oleh masyarakat sehingga toleransi bisa langgeng di masyarakat Lawe
Sigala-gala. Adapun fungsi laten yang dirasakan oleh masyarakat ialah fungsi
peningkatan pengetahuan wawasan keagamaan, fungsi untuk menjaga hubungan
persaudaraan dan fungsi afeksi dalam hubungan sosial. Fungsi-fungsi ini kemudian
yang membuat toleransi bisa terjadi dan masih langgeng sampai saat ini.
Kata Kunci : Agama, Fungsionalisme, Suku, Toleransi.

ABSTRACT The tolerance that exists in Lawe Sigala-gala sub-district, southeast Aceh is a unique phenomenon because the population is more Christian than Muslim as in Aceh in general. Even though the majority came from Protestant Christians, interreligious tolerance both in terms of worship and social relations has been maintained until now. The purpose of this research is to process the formation of a functional system of tolerance in Lawe Sigala-gala District, Southeast Aceh Regency and to see the process of forming tolerance in people's daily lives. The research method used is qualitative research with a descriptive approach. This method uses data collection techniques including observation, interviews and documentation. The results of the study show that the birth of high tolerance here cannot be separated from the historical factor of southeastern Aceh, where there are more immigrant communities from the Batak pedestal land, making the people of Southeast Aceh already live with various tribes and ethnicities. Apart from historical factors, there are also functions that are felt by the people of Lawe Sigalagala, both manifestly and latently. The manifest function that can be felt from this tolerance is security and comfort in worship, preventing social disintegration and freedom of opinion regarding religion. In addition, there is also a latent function, namely a function that is not planned but is felt by the community so that tolerance can last in the Lawe Sigala-gala community. The latent function felt by the community is the function of increasing knowledge of religious insight, the function of maintaining brotherly relations and the function of affection in social relations. These functions then make tolerance possible and still last today. Keywords: Religion, Functionalism, Tribe, Tolerance.

Citation



    SERVICES DESK