<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="113731">
 <titleInfo>
  <title>PERBANDINGAN KEMAMPUAN EKSTRAK TANAMAN SARANG SEMUT DAN KOMBINASI CYCLOSPORINE DAN AZATHIOPRINE TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS UTERUS KELINCI NEW ZEALAND WHITE BUNTING SEMU SETELAH MENGALAMI TRANSPLANTASI OVARIUM</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sukma Prasasti Pertiwi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Transplantasi ovarium pada uterus kelinci bunting semu dapat menyebabkan stres. Stres ini akan menyebabkan kerusakan pada uterus kelinci bunting semu yang diduga dapat dikurangi dengan pemberian ekstrak sarang semut. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan kemampuan ekstrak sarang semut dan kombinasi cyclosporine dan azathioprine dalam menurunkan kerusakan uterus kelinci New Zealand White (NZW) bunting semu yang mengalami transplantasi ovarium. Dalam penelitian ini digunakan enam ekor kelinci betina NZW bunting semu, berumur 3-5 tahun dan bobot badan 1,5-3,0 kg. Kelinci dikelompokkan dalam dua kelompok perlakuan (n=3), yaitu K1 dan K2. Seluruh kelinci &#13;
diinduksi bunting dengan injeksi 100 IU PMSG dan diikuti tiga hari kemudian dengan injeksi 75 IU hCG secara intramuskulus. Transplantasi ovarium dilakukan pada hari ke-8 (hari ke-0 adalah hari ketika injeksi hCG). Perlakuan pada semua kelompok dilakukan setiap pagi dan sore hari mulai pelaksanaan transplantasi ovarium sampai ovarium dikoleksi yang terdiri atas pemberian ekstrak tanaman sarang semut dengan dosis 200 mg per oral (K1) dan kombinasi cyclosporine 2,5 mg/kg secara intramuskulus dan azathioprine dosis 5 mg/kg bobot badan per oral (K2). Uterus dikoleksi lima hari setelah transplantasi lalu diproses secara histoteknik untuk pengamatan histopatologis uterus. Pada K1 dan K2 terdapat hiperemi, nekrosis pada epitel, dan infiltrasi sel radang. Meskipun jumlah nekrosis pada K1 lebih tinggi dibandingkan K2 (P</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>113731</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-08-28 08:55:55</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-08-28 09:39:16</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>