<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="113457">
 <titleInfo>
  <title>DETEKSI WAJAH CITRA TERMAL SPEKTRUM NIR MENGGUNAKAN MORFOLOGI CITRA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>CUT SALSABILLA AZRA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik Elektro</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Abstrak – Secara umum, sistem deteksi wajah dirancang dengan mempertimbangkan spektrum VIS. Hal ini membuat proses deteksi wajah tidak efektif ditempatkan di lingkungan yang pencahayaannya kurang, sehingga pada penelitian ini menggunakan citra termal NIR untuk pendeteksian wajah. Pada penelitian ini mengadopsi metode morfologi dikarenakan hasil dari proses face detector masih terdapat bagian selain wajah yang tidak terlokalisasi dengan baik. Operasi morfologi digunakan untuk menyempurnakan hasil dari segmentasi citra. Adapun objek penelitian yang digunakan pada sistem deteksi wajah adalah dataset LDHF-DB dengan jumlah data 100 citra dengan jarak yang berbeda-beda yaitu 1 meter, 60 meter, dan 100 meter yang terdiri dari citra termal NIR dan dataset tuft dengan jumlah data 60 citra. Pada penelitian dilakukan pengujian menggunakan jarak-jarak yang berbeda yang bertujuan untuk mengamati apakah semakin jauh jarak, citra wajah masih dapat terdeteksi atau tidak. Pada penelitian ini juga menguji performa citra termal NIR sebelum dan sesudah mengaplikasikan metode morfologi. Serta, pada penelitian ini juga menguji penggunaan dari morfologi pada citra VIS yang bertujuan untuk membandingkan performa antara citra VIS dan citra termal NIR. Pengujian dilakukan dengan menggunakan parameter PSNR. PSNR merupakan nilai perhitungan berdasarkan citra yang dihasilkan. Pada penelitian ini membuktikan bahwa performa citra termal spektrum NIR berupa pengujian nilai PSNR, lebih baik sesudah menggunakan metode morfologi dibandingkan sebelum menggunakan metode morfologi. Walaupun citra termal spektrum NIR ditangkap pada saat malam hari, hasil dari akurasi pendeteksian nilai PSNR sudah mendekati nilai PSNR citra VIS.&#13;
Kata kunci: Deteksi wajah, Citra Termal, Spektrum NIR, Morfologi Citra&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>113457</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-08-21 14:21:58</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-08-21 15:21:31</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>