<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="113027">
 <titleInfo>
  <title>AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN MANGKOKAN (NOTHOPHANAX SCUTELLARIUM  MERR.), KELOR (MORINGA OLEIFERA LAM.) DAN SIRIH (PIPER BETLE L.) SEBAGAI ALTERNATIF ANTI RADANG PADA KELINCI MODEL MASTITIS</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Cut Sriyanti</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Doktor Matematika Dan Aplikasi Sains Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Hasil penelitian dinegara maju maupun negara berkembang telah terbukti kuat bahwa ASI menurunkan angka kejadian maupun derajat berbagai penyakit infeksi. Data saat ini menunjukkan bahwa meningkatkan pemberian ASI eksklusif hanya 37%. ASI ekskluif yaitu pemberian ASI saja tanpa makanan pendamping apapun mulai dari bayi baru lahir sampai usia enam bulan, apabila terjadi masalah menyusui dalam enam bulan ini maka akan menggangu proses pemberian ASI eksklusif. Masalah yang ditimbulkan dari mastitis dan rasa sakit yang terkait dengan kondisi tersebut umumnya terjadi pada 6-8 minggu setelah melahirkan dan ini telah terbukti berhubungan dengan penghentian menyusui secara dini, sehingga menjadi salah satu faktor pemicu terganggunya proses menyusui hingga 33%. Penyebab mastitis yaitu statis ASI dan infeksi, banyak faktor penyebab terjadinya statis ASI sehingga menjadi media pertumbuhan bakteri bila tidak diatasi secara efektif. Salah satu bakteri yang menyebabkan mastitis adalah Staphylococcus aureus. Beberapa penelitian eksperimen dan klinis mastitis telah menunjukkan bahwa pelepasan sitokin IL-6 sebagai penanda terjadinya inflamasi. Penatalaksanaan pada kasus mastitis umumnya dengan antibiotik, apabila digunakan secara berlebihan dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri, apalagi jika antibiotik harus diberikan dalam waktu jangka panjang. Pendekatan teurapeutik lain untuk penanganan mastitis yaitu dengan pengobatan herbal yang memiliki efek farmakologis yaitu menyerap panas, detoksifikasi, antiinflamasi dan antibakteri. Pemanfaatan tumbuhan herbal merupakan alternatif untuk mencegah dan mengobati penyakit, karena dianggap dapat mengurangi resistensi terhadap antibiotik, salah satunya untuk pengobatan mastitis. Beberapa tumbuhan yang berkhasiat obat yaitu daun mangkokan (Nothopanax scutellarium merr.), daun sirih (Piper betle Linn.) dan daun kelor (Moringa oliefera L.), yang tumbuh di pekarangan rumah.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak etanol daun mangkokan, kelor dan sirih sebagai salah satu alternatif untuk anti radang pada mastitis. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari lima kali ulangan, menggunakan kelinci betina lokal. Pengelompokan hewan coba dilakukan secara acak dengan membagi 25 kelinci menjadi 5 grup yaitu kontrol negatif, kontrol positif dan grup eksperimen 1, 2 dan 3, masing-masing kelompok berjumlah 5 kelinci. Grup kontrol negatif adalah grup kelinci laktasi 8 hari tanpa perlakuan apapun, grup kontrol positif adalah grup kelinci laktasi 8 hari model mastitis tanpa pemberian ekstrak, sedangkan grup eksperimen 1 yaitu kelinci laktasi 8 hari model mastitis yang akan diberikan ekstrak daun mangkokan, grup eksperimen 2 yaitu kelinci laktasi 8 hari model mastitis yang akan diberikan ekstrak daun kelor dan grup eksperimen 3 yaitu kelinci laktasi 8 hari model mastitis yang akan diberikan ekstrak daun sirih. Pemberian ekstrak secara oral dilakukan hari ke delapan setelah 4 jam injeksi S. aureus melalui sonde dengan dosis masing-masing ekstrak 50 mg/kgbb dengan frekuensi dua kali sehari selama lima hari berturut-turut, selanjutnya dikorbankan.&#13;
Penelitian dilakukan dalam lima tahapan penelitian. Tahapan pertama melakukan karakterisasi dan analisis fitokimia ekstrak etanol daun mangkokan, kelor dan sirih. Hasil uji fitokimia ekstrak etanol daun mangkokan, kelor dan sirih mengandung senyawa yang sama yaitu flavonoid, steroid, tannin, phenol, saponin dan alkaloid.&#13;
Tahapan kedua menganalisis senyawa aktif ekstrak mangkokan, kelor dan sirih menggunakan fourier transform infrared (FTIR). Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun N. scutellarium merr., M. oleifera Lam. dan P. betle mengkonfirmasi adanya gugus fungsi O-H, C-H, C=O, C=C, C-NO2, C-O-C dan (CH2)n. Tidak terdapat perbedaan gugus fungsi ekstrak etanol daun N. scutellarium, M. oleifera dan P. betle. &#13;
Tahapan ketiga mengukur dan menentukan daya hambat ekstrak daun mangkokan, kelor dan sirih terhadap S. aureus. Hasil pengukuran menunjukkan rerata daya hambat yang paling tertinggi hingga yang terendah  adalah pada kelompok perlakuan amoxillin yakni sebesar 32,01 mm, kemudian dilanjutkan dengan kelompok perlakuan khlorapenicol sebesar 26.82,  daun sirih 100% sebesar 21,29 mm, daun sirih 80% sebesar 19,24 mm, daun sirih 60% sebesar 18,16 mm, vancomisin sebesar 16,56 mm, daun sirih 40% sebesar 15,80 mm, daun mangkokan 100% sebesar 13,47 mm, daun sirih 20% sebesar 13,38 mm, daun mangkokan 80% sebesar 11,82 mm, daun mangkokan 60% sebesar 10,92 mm, daun mangkokan 40% sebesar 9,73 mm,  daun kelor 100% sebesar 8,02 mm, daun mangkokan 20% sebesar 7,10 mm, daun kelor sebesar 80% 6,98 mm, daun kelor 60% sebesar 6,63 mm,  daun kelor 40% sebesar 6,55 mm, dan yang paling teredah pada daun kelor 20% sebesar 6,08 mm. Hasil uji analisis statistik pengaruh ekstrak daun mangkokan, kelor dan sirih terhadap daya hambat dapat menunjukkan nilai rata-rata yang berbeda nyata (p</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>113027</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-07-31 10:24:53</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-07-31 10:55:15</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>