<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="112897">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS ADVERSE CHILDHOOD EXPERIENCES DAN GENERAL WELL-BEING PADA MASYARAKAT ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Samia Sakinah Mahdi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tingginya kasus kekerasan domestik dan angka perceraian di Aceh, serta sejarah konflik berkepanjangan, menjadi indikasi awal akan tingginya prevalensi adverse childhood experiences (ACEs) pada masyarakat Aceh. ACEs merupakan paparan terhadap berbagai jenis pengalaman merugikan yang terjadi selama masa kanak-kanak (usia 0-18 tahun) yang dapat menyebabkan stres akut dan trauma. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan antara ACEs dengan general well-being (GWB) pada masyarakat dewasa di Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan 317 sampel berusia minimal 18 tahun, yang ditentukan melalui teknik convenience sampling. Data dikumpulkan secara daring menggunakan WHO Adverse Childhood Experience International Questionnaire (WHO ACE-IQ) dan Scales of General Well-being Short Version. Penelitian ini menemukan hubungan antara ACEs dan GWB, dengan nilai koefisien korelasi (r)=-0.312 dan nilai signifikansi (p) = 0,000 (p &lt; 0,05). Dengan demikian, semakin tinggi ACEs yang dialami individu, maka semakin rendah tingkat GWB yang dimilikinya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan prevalensi ACEs yang tinggi dengan 95,27 persen subjek penelitian pernah mengalami setidaknya satu jenis ACEs. Terdapat 53,63 persen diantaranya yang melaporkan lebih dari empat jenis ACEs (kategori tinggi). Berdasarkan jenisnya, ACEs dengan prevalensi tertinggi adalah kekerasan komunitas (68,1%), kekerasan dalam rumah tangga (64%), dan kekerasan teman sebaya (62,5%). Sementara berdasarkan dimensinya, yang paling tinggi adalah kekerasan komunitas dan kekerasan kolektif (78,9%), serta kekerasan emosional dan kekerasan fisik (71,6%). Sementara itu, 91,8 persen subjek penelitian justru melaporkan tingkat GWB yang tinggi pula. Hal ini mungkin berkaitan dengan nilai-nilai budaya dan spiritual yang melekat pada masyarakat Aceh. Temuan ini menunjukkan pentingnya memahami ACEs pada konteks masyarakat Aceh untuk mengembangkan strategi pencegahan dan intervensi yang efektif, serta penanganan dampak ACEs terhadap kesehatan dan kesejahteraan diri masyarakat. &#13;
Kata Kunci: Aceh, kekerasan, kesehatan, kesejahteraan diri, penelantaran&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>112897</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-07-21 13:46:34</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-07-21 15:04:30</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>