TINJAUAN PSIKIS TAHAPAN BERDUKA ORANG TUA DENGAN ANAK RETARDASI MENTAL DI SEKOLAH DASAR LUAR BIASA NEGERI LABUI BANDA ACEH TAHUN 2011 | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

TINJAUAN PSIKIS TAHAPAN BERDUKA ORANG TUA DENGAN ANAK RETARDASI MENTAL DI SEKOLAH DASAR LUAR BIASA NEGERI LABUI BANDA ACEH TAHUN 2011


Pengarang

Ryzka Mubarokah - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

0907101190038

Fakultas & Prodi

Fakultas Keperawatan / Ilmu Keperawatan (S1) / PDDIKTI : 14201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Kedokteran., 2012

Bahasa

Indonesia

No Classification

618.928 588

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Anak adalah bua hati setiap orang tua, semua orang tua menyayangi dan mengidamkan kehadiran anak:, namun belum tentu sama halnya ketika orang tua mendapati anaknya dalam keadaan abnonnal khususnya dengan retardasi mental. Tahapan berduka biasanya muncul pada individu yang mengalami kehilangan, begitu pula pada orang tua yang berduka ketika mendapati anaknya menderita retardasi mental. Penelitian ini bertujuan untuk melihat "Tinjauan Psikis Tahapan Berduka Orang Tua Dengan Anak Retardasi Mental Di Sekolah Dasar Luar Biasa Negeri Labui Banda Aceh Tahun 2011. Dessain penelitian ini adalah deskriptif murni dengan pendekaran cross sectional study, sarnpel diambil dengan cara total sampling, sampel diambil dan dilakukan dari tanggal 16 - 20
Desember 2011 di Sekolah Dasar Luar Biasa Negeri Labui Banda Aceh. Alat

pengumpulan data berupa kuesioner dalam skala likert menggunakan format chek list sebanyak 33 pernyataan. Hasil analisa data menunjukkan orang tua dengan anak retardasi mental berumur 29 - 44 tahun (70,5%), dengan umur anak 11 - 20 tahun (50,0%), jenis kelamin orang tua perempuan (68,2%), pendidikan orang tua SMA (38,6%), pekerjaan orang tua PNS dan IRT(36,4%), status pernikahan kawin (88,6%), pendapatan keluarga
1.350.000 dan 1.350.000-2.500.000 (43,2%). Tabapan berduka (63,6%), denial (20,5%), anger (9,1%), bargaining (20,5%), depression (13,6%), dan acceptance (36,4%). Hal ini menunjukkan orang tua belum bisa menerima keadaan anaknya yang retardasi mental.Peneliti menyarankan agar orang tua mencari informasi yang lebih banyak tentang retardasi mental, dan bendalcnya SDLBN Labui membantu menyediakan sumber





Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK