<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="112704">
 <titleInfo>
  <title>PERBEDAAN EFEKTIFITAS TERAPI SILODOSIN DAN TAMSULOSIN PADA KASUS BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA DI RSUDZA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Muhammad Arif</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penyakit benign prostat hyperplasia/BPH adalah penyakit yang disebabkan oleh perubahan hiperplastik pada jaringan prostat yang menyebabkan pembesaran prostat. Kasus BPH di Aceh, khususnya di RSUDZA Banda Aceh menunjukkan angka kejadian yang cukup tinggi yaitu 66,66% kasus total dari penyakit prostat.Obat BPH yang seringkali diresepkan dan tercantum dalam formularium nasional/FORNAS adalah silodosin tablet 0,4mg dan tamsulosin tablet lepas lambat 4mg. Pasien BPH yang melakukan terapi konservatif memiliki kemungkinan yang tinggi untuk diresepkan dua obat alpha-blocker selektif yang berbeda di waktu yang berbeda. Fenomena ini dapat mempengaruhi efektifitas terapi yang didapatkan oleh pasien. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan efektifitas silodosin dan tamsulosin dalam mengurangi keluhan dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan metode cross-sectional dan desain pendekatan retrospektif, dimana data primer diambil dari hasil wawancara menggunakan kuesioner international prostate symptoms score/IPSS selama bulan oktober-november 2022 di RSUDZA, dan diolah dengan analisis bivariat menggunakan uji paired t-test. Sampel penelitian ini terdiri dari 30 orang pasien yang pernah mendapatkan kedua terapi silodosin dan tamsulosin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa silodosin 0,4 mg memiliki efektifitas yang sama dengan tamsulosin 4 mg dalam menurunkan skor IPSS (p = 0,392), dan tamsulosin 4 mg memiliki efektifitas yang lebih baik dalam menurunkan skor quality of life/QoL dengan rerata skor 2,26 (p = 0,035). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil penilaian gejala BPH secara obyektif dengan menggunakan IPSS antara kelompok pasien yang menerima silodosin 0,4 mg atau tamsulosin 4 mg terlebih dahulu, namun tamsulosin 4 mg memiliki efektifitas yang lebih baik dalam memperbaiki skor QoL yang tinggi/ tingkat kualitas hidup yang buruk.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>112704</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-07-12 09:09:02</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-07-12 09:13:14</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>