ANALISIS BAHAYA TSUNAMI BERDASARKAN POTENSI GEMPA BUMI SUBDUKSI DI SUMATRA BAGIAN UTARA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

ANALISIS BAHAYA TSUNAMI BERDASARKAN POTENSI GEMPA BUMI SUBDUKSI DI SUMATRA BAGIAN UTARA


Pengarang

Inna Nurana - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Muksin - 197406252000121001 - Dosen Pembimbing I
Syamsidik - 197502251999031001 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1908202010002

Fakultas & Prodi

Fakultas MIPA / Fisika (S2) / PDDIKTI : 45101

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas mipa., 2023

Bahasa

Indonesia

No Classification

551.463 7

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Gempa bumi pembangkit tsunami di Aceh tahun 2004 dan Nias tahun 2005 dengan dampak tsunami yang besar menjadi bagian penting dalam sejarah tsunami yang mampu menyadarkan kita akan pentingnya upaya mitigasi. Dampak tsunami akan berbeda untuk setiap daerah dimana tergantung letak sumber gempabumi pembangkit tsunami. Pada penelitian ini, akan dilakukan pemodelan tsunami dengan banyak sumber tsunami yang mungkin terjadi di wilayah berpotensi tsunami menggunakan motode numerik TUNAMI-N2. Pemilihan daerah pemodelan tsunami didasarkan pada daerah yang memiliki kenaikan tegangan batuan yaitu dengan menggunakan metode analisis statistik untuk menentukan nilai a dan b untuk wilayah Sumatra bagian utara. Secara spasial, hasil yang diperoleh yaitu nilai-a dan nilai-b yang menggambarkan heterogenitas lateral dan akumulasi stress pada zona pertemuan di sistem subduksi dan segmentasi utara dari sesar Seulimeum. Nilai-b dan nilai-a secara berturut - turut untuk data dari tahun 1970 – 2020 adalah 0,5 – 1,5 dan 3 – 8, untuk data sebelum tsunami Aceh 2004 dan Nias 2005 adalah 1,25 – 1,5 dan 7 – 8, sedangkan untuk data setelah tsunami Aceh 2004 dan Nias 2005 adalah 0,5 – 2,0 dan 3 – 8. Secara waktu, kedua wilayah menggambarkan siklus time-to-failure yang lambat dan zona seismic-gap dengan akumulasi tegangan yang tinggi pada klaster tertentu dengan nilai parameter yang tinggi. Hasil analisis spasial temporal menggambarkan bahwa setiap kejadian gempa bumi besar biasanya didahului dengan nilai parameter statistik yang rendah. Pemodelan tsunami dilakukan pada 5 daerah dengan nilai b yang rendah. Parameter patahan yang digunakan sebagai pembangkit gelombang tsunami adalah parameter patahan gempabumi Aceh tahun 2004. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan Banda Aceh memiliki nilai dominan dengan ketinggian tsunami 16 meter dan waktu tiba 32 menit, Sabang memiliki nilai ketinggian tsunami 2 meter dan waktu tiba 26 menit, Pulo Aceh memiliki nilai ketinggian tsunami 9 meter dan waktu tiba 21 menit dan Meulaboh memiliki nilai ketinggian tsunami 36 meter dan waktu tiba 22 menit. Banda Aceh dan Sabang memiliki tingkat bahaya tsunami dengan kategori Siaga, sedangkan Pulo Aceh dan Meulaboh memiliki tingkat bahaya tsunami dengan kategori Awas.
Kata kunci: B-value, Pemodelan Tsunami, TUNAMI-N2, Tingkat Bahaya Tsunami.

The tsunami-generating earthquakes in Aceh in 2004 and Nias in 2005 with a large tsunami impact became an important part of the history of the tsunami which made us aware of the importance of mitigation efforts. The impact of the tsunami will be different for each area depending on the location of the earthquake source that generates the tsunami. In this research, tsunami modeling will be carried out with many tsunami sources that may occur in tsunami potential areas using the TUNAMI-N2 numerical method. The selection of the tsunami modeling area is based on areas that have increased rock stress by using statistical analysis methods to determine the a and b values for the northern part of Sumatra. Spatially, the results obtained are avalues and b-values which describe lateral heterogeneity and accumulated stress at the confluence of zones in the subduction system and the northern segmentation of the Seulimeum fault. In terms of time, both regions describe a slow time-to-failure cycle and a seismic-gap zone with high stress accumulation in certain clusters with high parameter values. B-values and a-values respectively for data from 1970 – 2020 are 0.5 – 1.5 and 3 – 8, for data before the 2004 Aceh tsunami and 2005 Nias are 1.25 – 1.5 and 7 – 8, while for data after the 2004 Aceh tsunami and 2005 Nias are 0.5 – 2.0 and 3 – 8. The results of the spatial-temporal analysis illustrate that every major earthquake event is usually preceded by a low statistical parameter value. Tsunami modeling is done in 5 areas with low b values. The fault parameter used as a generator of tsunami waves is the 2004 Aceh earthquake fault. The results of the tsunami modeling show that Banda Aceh has a dominant value with a tsunami height of 16 meters and a arrival time of 32 minutes, Sabang has a tsunami height value of 2 meters and a arrival time of 26 minutes, Pulo Aceh has a tsunami height value of 9 meters and a arrival time of 21 minutes and Meulaboh has a value the height of the tsunami was 36 meters and the arrival time was 22 minutes. Banda Aceh and Sabang have a tsunami hazard level in “Siaga” category, while Pulo Aceh and Meulaboh have a tsunami hazard level in “Awas” category. Keywords: B-Score, Tsunami Modeling, TUNAMI-N2, Tsunami Hazard Level

Citation



    SERVICES DESK